Lompat ke konten
Beranda » Blog » Hoarding Disorder – Perilaku Ekstrem Menumpuk Sampah

Hoarding Disorder – Perilaku Ekstrem Menumpuk Sampah

Kamuflase Penderita Hoarding Disorder

Sebuah berita menampilkan tayangan menghebohkan pada salah satu kos di Jakarta. Dalam berita diceritakan bahwa pemilik kos merasa curiga dengan kamar salah satu penghuninya yang sedang mudik tercium bau menyengat. Untungnya saat itu penghuni kos lupa mengunci, saat itulah terjawab kecurigaan selama ini.

Ternyata di dalam kamar tersebut tersebar banyak sampah. Tidak hanya di lantai tetapi juga nyaris menutup semua isi kamar. Pemilik kos tentu saja geram melihat hal ini, pasalnya penghuni tampak biasa saja secara penampilan.

Lain halnya dengan sosok ibu yang menempati rumah megah bersama putrinya. Sang putri mengakui bahwa ibunya gemar memungut dan mengumpulkan sampah. Dan ternyata kebiasaan ini terjadi setelah sang suami berpulang. Berbagai cara dilakukan untuk membuang sampah-sampah yang memenuhi rumahnya, namun sang ibu selalu marah dan bahkan membenci putrinya.

Kedua kasus di atas hanyalah sedikit dari cerita pemilik hoarding disorder yang terpublikasi. Di luar sana masih banyak yang belum terekspos. Pada dasarnya hoarding disorder adalah sebuah perilaku ekstrem yang dimiliki seseorang yang gemar menyimpan dan menimbun sampah secara terus menerus.

Perilaku ekstrem ini terjadi karena beberapa sebab – ada yang tumbuh dari kebiasaan, ada pula karena dampak psikis yang terganggu.

1. Kebiasaan yang salah

Ketika seseorang selesai makan, umumnya mereka akan membereskan peralatan yang digunakan atau membuang bekas kemasan yang telah dimakan. Seringnya menunda untuk membereskan dan membuang sampah justru bisa jadi pemantik hoarding disorder. Apalagi ketika mereka merasa nyaman-nyaman saja dan tidak merasa terganggu. Sedikit demi sedikit, sampah itupun akhirnya akan menumpuk.

2. Dampak Psikis yang terganggu

Seseorang ketika merasa kehilangan atau kesepian tentu akan mengalami pergolakan emosi. Dan hal itu bisa menimbulkan efek bermacam-macam salah satunya adalah hoarding disorder. Mereka yang mengalaminya menormalisasi menimbun sampah sebagai pelarian atau pelampiasan. Sehingga hal tersebut dianggap wajar ketika aksi mereka justru ditentang sekitar.

Ciri-ciri Hoarding Disorder

Namun ada pula penderita hoarding disorder yang berawal dari merasa “sayang” untuk membuang sampah. Hal ini bermula karena sampah-sampah tersebut dianggap memiliki nilai berharga sehingga sayang untuk dibuang. Dalam hal ini penderita justru samar untuk membedakan mana yang harus dibuang dan dipertahankan.

Selain beberapa hal di atas, penderita hoarding disorder umunnya memiliki ciri sebagai berikut :

  • Sulit melepaskan atau membuang sampah, hal ini dikarenakan penderita akan merasa cemas, stres bahkan tak nyaman saat sampah yang ditimbun kita bersihkan atau dibuang.
  • Menarik diri dari lingkungan sosial menjadi pilihan penderita hoarding disorder. Mereka merasa malu, bahkan marah jika kebiasaannya menimbun sampah diusik.
  • Menimbun berlebihan. Para penderita hoarding disorder akan menimbun apapun meski barang tersebut tidak layak serta tak memiliki nilai guna, misalnya menyimpan tisu bekas pakai, menyimpan pakaian usang, dan lain-lain.

Penanganan Hoarding Disorder

Perilaku ini tentu sangat mengganggu karena membuat lingkungan bahkan rumah menjadi tidak sehat dan kumuh. Oleh sebab itu, perlu penanganan khusus untuk mengatasi hoarding disorder, di antaranya:

1. Membiasakan pola hidup sehat

Hidup sehat tidak hanya didukung oleh konsumsi makanan yang cukup nutrisi, tetapi juga perilaku yang mendukungnya. Beberapa perilaku hidup sehat misalnya olah raga, menjaga kebersihan baik lingkungan maupun pribadi. Jangan biasakan menunda membuang sampah. Jika keadaan membuat kita sulit untuk membuang sampah (kemasan makanan atau sisa makanan kemarin), maka tempatkan dalam kantong tersendiri agar memudahkan untuk dibuang esoknya.

2. Sosialisasi gerakan hidup sehat

Agar kejadian yang menimpa pemilik kos tidak terjadi lagi, terapkan aturan kebersihan dan kontrol minimal dua kali dalam seminggu. Bila ternyata masih ada yang malas membuang sampah, menegur bisa jadi solusi yang tepat.

Di samping itu, mengajak berbicara dari hati ke hati tentang gerakan hidup sehat akan lebih menyentuh mereka yang suka menunda untuk membuang sampah.

3. Mengubah Kebiasaan

Ketika seseorang mulai menunjukkan gejala hoarding disorder, keluarga atau lingkungan terdekat wajib segera melakukan pendekatan. Dengan demikian akan mencegah mereka yang merasa sedih atau kesepian untuk melakukan penimbunan sampah dengan alasan sayang kepada pemberinya.

4. Perawatan Medis

Meskipun hoarding disorder ini berkaitan dengan perilaku, melibatkan tenaga medis dalam penyembuhannya juga sangat dianjurkan. Dengan keterlibatan mereka, penderita juga akan mendapatkan konseling atau pendampingan secara berkelanjutan.

Penutup

Pada dasarnya sebuah perilaku menyimpang dapat dicegah asal belum terlambat. Hoarding disorder pun dapat diamati dari gejala yang tampak salah satunya enggan dan suka menimbun sampah. Tugas kita merangkul mereka agar dapat hidup secara normal, sehat dan wajar. Dan tentunya sebagaimana sebuah proses berjalan, perlu waktu berkelanjutan untuk mencapai masa penyembuhan.