Ketika Ingin Terlihat Keren
Beberapa waktu lalu ada yang cukup menggelitik ketika mendengar obrolan ibu-ibu berbelanja di warung sayur. Salah seorang ibu dengan percaya diri berujar,” Aku mau masak satèl egg”. Seketika ibu-ibu yang sedang memilih sayur mengalihkan perhatian pada ibu yang barusan berkata demikian. Ada rasa bingung mencerna maksud perkataan ibu tadi. Hingga salah seorang ibu lain memberanikan diri bertanya, “Apa, Bu? Ibu mau masak apa?” Dan semua baru paham bahwa ternyata ada miss spelling dari ucapan ibu tersebut karena yang ibu itu maksud adalah salted egg.
Kejadian di atas mungkin pernah kita temui dalam keseharian atau bahkan pernah juga kita alami. Penggunaan istilah tertentu atau populer memang biasa terjadi ketika mengobrol. Biasanya, mereka yang suka mengucapkan istilah-istilah berbau bahasa asing memang tahu maksudnya, tetapi tidak dengan cara penyampaiannya. Seperti pada kasus ibu “satèl egg” tersebut. Secara makna dia tahu bahwa olahan saus telur asin itu dialih bahasakan menjadi salted egg, hanya saja dia lupa pengucapan yang benar.
Alasan Orang Menggunakan Bahasa Asing
Oleh sebab itu sangat perlu bagi kita agar paham dengan benar istilah asing sebelum mengucapkannya, karena salah arti dapat menimbulkan multi tafsir yang berbeda. Apalagi bahasa Inggris yang sudah mendunia, hampir siapa pun bisa mengucapkannya, meski dalam tata bahasa yang kurang tepat. Sehingga tidak heran jika mulai banyak daerah yang menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar mereka sehari-hari, seperti yang terjadi di daerah Depok. Ada salah satu penjual pecel yang mengharuskan pembelinya menggunakan bahasa Inggris jika ingin membeli. Tidak ada parameter benar atau salah dalam prosesnya, yang penting pembeli mau berusaha berbicara dalam bahasa Inggris.
Tentunya program ini tidak asal-asalan, ada maksud dan tujuan yang melatar belakanginya :
1. Era Global
Penggunaan bahasa Inggris sudah menjadi hal yang lumrah apalagi di zaman global di mana arus informasi datang dari banyak negara. Tidak hanya itu, secara budaya, bahasa Inggris juga sebagai jembatan untuk dapat berinteraksi dengan warga asing.
2. Tuntutan Zaman
Perkembangan zaman yang juga mencakup semua aspek, mau tidak mau membuat kita harus siap untuk belajar termasuk penggunaan istilah-istilah asing yang relatif digunakan dalam bahasa sehari-hari, maupun yang sering kita temui dalam booklet elektronik.
3. Personal Branding
Ketika seseorang berani tampil “berbeda” tentu akan menjadi pusat perhatian. Begitu juga dengan yang dilakukan oleh penjual pecel di Depok yang mengharuskan speaking in English dalam transaksinya. Secara tidak langsung hal ini akan membuat orang teringat sosoknya yang lancar speaking in English.
4. Menyebarkan Energi Positif
Ketika mendengar orang lancar berbicara bahasa asing, tentu ada rasa kagum melihatnya. Hal ini secara tidak langsung memotivasi diri kita untuk turut serta mempelajari bahasa asing agar bisa lancar seperti dia.
Namun, terlepas dari faktor apa yang melandasi orang menggunakan bahasa asing, ada hal yang harus kita perhatikan:
1. Perhatikan Lawan Bicara
Menggunakan bahasa asing tentu dapat menimbulkan rasa bangga tersendiri bagi penuturnya, tetapi kita juga harus tepat berbicara dengan siapa. Sebagai contoh, Anda cas cis cus menggunakan bahasa asing dengan lansia, tentu hal ini akan mematikan dialog dua arah. Akan lebih bijaksana jika penggunaan bahasa asing juga dipakai ketika berhadapan dengan orang yang tepat.
2. Pastikan Benar Maksudnya
Pada dasarnya, mengobrol atau berbicara itu tentu untuk menyampaikan sebuah maksud agar mudah diterima oleh pendengarnya. Karena itu, cukup gunakan istilah yang sudah umum dan mudah dipahami. Sebagai contoh, kita bisa menyebut morning glory untuk sayuran kangkung atau bamboo shoots untuk rebung. Akan berbeda jika Anda menggunakan makna idiom untuk menggantikan kangkung maupun rebung.
Penutup
Menggunakan bahasa asing itu boleh-boleh saja, bahkan harus agar menjadi nilai plus bagi kita. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menerapkannya – lawan bicara, istilah yang sudah umum, serta pengucapan yang benar. Jangan sampai ingin terlihat keren lantas jadi asbun alias asal bunyi. Jangan sampai mulutmu harimaumu. Tetapi pandailah menempatkan diri seperti peribahasa,” Bahasa menunjukkan bangsa“, kurang lebihnya diartikan apa yang kita ucapkan mencermikan jati diri sebenarnya.
