Lompat ke konten
Beranda » Blog » Self Harm: Penyebab Menyakiti Diri dan Cara Mengobatinya

Self Harm: Penyebab Menyakiti Diri dan Cara Mengobatinya

Indscriptcreative.com – Rangkasbitung, 14 Oktober 2026

Belakang ini banyak remaja melakukan tindakan menyakiti diri sendiri yang kemudian dipublikasikan ke media sosial. Mereka terjebak oleh rasa frustasi, dan rasa ingin menyerah untuk hidup. Bisa menyakiti diri sendiri dengan benda tajam, apabila kebiasaan ini dipertahankan tentu saja berbahaya bagi kesehatan fisik dan jiwa. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang menyakiti diri sendiri.

Apa Itu Self Harm?

Self harm adalah suatu tindakan menyakiti diri sendiri untuk menghilangkan rasa frustasi, stres, dan berbagai macam emosi. Setiap orang memiliki self harm yang berbeda-beda, seperti menarik rambut, menggaruk, memukul, menelan zat berbahaya, dan menyayat anggota tubuh. Tujuan awalnya bukan untuk bunuh diri, tetapi akan menimbulkan luka yang parah jika dibiarkan. Menurut Healthline delapan puluh persen, orang melakukan pemotongan sebagai tindakan yang merugikan diri sendiri. Berdasarkan studi pada tahun 2021, self harm paling banyak dilakukan oleh para remaja hingga dewasa muda di Indonesia yang berusia 12-19 tahun.

Mengapa Remaja dan Dewasa Melakukan Tindakan Merugikan Diri Sendiri?

Pelaku self harm paling sering adalah remaja dan dewasa muda, dengan beberapa faktor seperti berikut:

  • Sulit mengekspresikan emosi dan perasaan.
  • Tidak tahu ingin meluapkan rasa sakit, trauma, dan tekanan  secara psikologis.
  • Tidak memiliki solusi terhadap rasa kesepian, diabaikan, dan kebingungan yang mereka miliki.

Sekali melakukan self harm akan membuat para pelakunya kecanduan, mereka beranggapan jika menyakiti diri sendiri  sebagai cara untuk meredakan perasaan negatif, serta menikmati rasa sakit yang sedang mereka alami. Self harm juga menjadi perilaku dan sering dilakukan oleh orang dalam gangguan jiwa (ODGJ), seperti bipolar, depresi, gangguan obsesif-komplusif.

Penyebab Self Harm

Penyebab tindakan ini bisa sangat kompleks dan bervariasi antar individu, tetapi kondisi ini umumnya dipicu oleh gangguan mental seperti depresi, kecemasan, atau gangguan kepribadian. Pengidapnya melakukan tindakan ini sebagai cara untuk mengatasi stres atau tekanan emosional. Nah, beberapa orang mungkin tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk mengelola emosi. Oleh karena itu, mereka beralih melakukan tindakan melukai diri sendiri  ini sebagai cara untuk meredakan tekanan yang dirasakan. Lingkungan yang penuh tekanan, termasuk masalah di rumah, sekolah, atau pekerjaan dapat membuat seseorang terjebak dan tidak mengatasi masalahnya dengan cara lain, selain self harm. Beberapa cara untuk mengobati self harm adalah sebagai berikut:

1. Konsultasi

Pengobatan awal agar Anda pulih dari perilaku self harm adalah konsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk dibantu dalam mengelola emosi. Selain bantuan itu, pelaku self harm juga bisa meminta keluarga dan teman yang terpercaya jika sekiranya sulit menemukan bantuan profesional.

2. Obat

Dalam sesi konsultasi yang dibantu psikiater, pasien mungkin akan mendapat resep obat-obatan seperti antidepresan untuk membantu mengelola emosi. Dosis obat setiap pasien pasti berbeda-beda tergantung pada kondisi pasien dan penilaian psikiater. Oleh karena itu, pasien tidak boleh mengonsumsi obat di luar dosis yang telah direkomendasikan oleh psikiater.

3. Olahraga dan Terapi

Nah, bukan hanya terapi obat saja yang bisa dilakukan untuk mengobati tindakan merugikan diri sendiri. Sebagai perlindungan dari emosi yang tidak stabil, olahraga dan terapi squeeze ball sangat direkomendasikan. Olahraga seperti push-up, dan boxing dapat mengembalikan energi serta meningkatkan kesenangan dalam hidup.

Penutup:

Self harm adalah tindakan menyakiti diri sendiri, umumnya menyayat tangan. Hal ini jika terus dibiarkan menjadi berbahaya, selain menyakiti fisik dan menimbulkan luka. Self harm ternyata menjadi salah satu gejala dan pertanda dari sebuah gangguan jiwa untuk mengontrol emosi. Kondisi ini tentunya dapat diolah dengan cepat, jika pelaku benar-benar rutin melakukan konseling dan menata gaya hidup sehat secara fisik dan emosional.