Lompat ke konten
Beranda » Blog » Sayangi Bumi dengan Mengenali Produk Ramah Lingkungan

Sayangi Bumi dengan Mengenali Produk Ramah Lingkungan

Ketika Jalan Pintas Lebih Disukai

Ada yang membuat miris serta prihatin dengan kondisi hutan di Indonesia yang rusak akibat kebakaran. Selain berkurangnya kualitas paru-paru dunia, habitat satwa juga terkena dampaknya.

Ada spekulasi yang menyebutkan bahwa terbakarnya hutan-hutan tersebut bukan murni efek gejala alam el nino yang melanda negara kita, melainkan campur tangan pihak yang ingin membuka lahan dengan jalan pintas.

Tidak dipungkiri lagi bahwa umumnya orang suka memilih sesuatu yang instan. Hal ini dikarenakan banyaknya jalan serta proses yang dilalui untuk mencapai sebuah keberhasilan. Belum lagi jika dikaitkan dengan modal. Sehingga jalan pintaslah yang ditempuh tanpa menimbang lebih lanjut efek di kemudian hari.

Penyumbang Terbesar Produk Sekali Pakai

Dari sekian banyak jalan pintas yang terjadi, penggunaan produk harian juga turut andil. Sebagai contoh penggunaan kantong kersek serta pembalut sekali pakai.

Boleh dibilang dua produk ini merupakan barang yang rutin dipakai orang, bahkan juga dibutuhkan dalam sehari-hari.

1. Kantong Kersek

Meski beberapa waktu lalu pernah terjadi kenaikan harga yang signifikan, nyatanya tidak menggeser peran kantong kersek sebagai bungkus berbagai rupa. Padahal kandungan di dalam kantong kersek tidak baik untuk kesehatan apalagi jika dipakai sebagai bungkus makanan seperti gorengan. Kandungan mikro partikel akan menempel pada gorengan apalagi jika kondisinya masih panas dan tidak dialasi sama sekali.

2. Pembalut Sekali Pakai

Benda yang satu ini diam-diam juga turut mendukung volume sampah. Namun, pertimbangan praktis dan harga terjangkau membuatnya jadi favorit kaum hawa. Meskipun bahan dasar pembalut sekali pakai ini terbuat dari serat dan kapas, namun lapisan permukaannya tetap berbahan dasar plastik yang juga sulit terurai.

Bisa dibayangkan berapa banyak sampah dalam sehari dyang dihasilkan dari kedua jenis produk tak ramah lingkungan itu, bukan? Sikap bijaksana dalam memilih produk-produk yang ramah lingkungan harus kita aktifkan mulai sekarang. Berikut ini beberapa langkah yang dapat kita terapkan:

1. Membaca Simbol Segitiga Kemasan

Jika memang sulit bagi kita untuk lepas dari penggunaan plastik, usahakan memilih kemasan yang mengandung BPA free. Selain itu, kita juga bisa mengamati lebih cermat simbol berbentuk segitiga dengan angka yang tertera pada kemasan PET (Polyethyelene Terephthalate).

Merujuk pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, terdapat kriteria penggunaan bahan mulai dari angka 1 sampai 7.

  • Angka 1: PET, menunjukkan bahwa kemasan tersebut hanya digunakan untuk sekali pakai. Penggunaan berulang kali dan jangka panjang sangat beresiko bagi kesehatan. Apalagi jika digunakan untuk menyimpan air hangat. Hal ini dapat memicu penyakit kanker mengingat lapisan polimer yang terkandung akan meleleh dan melepaskan zat karsinogenik. Biasanya bahan ini biasa ditemukan dalam botol soft drink, botol air sekali pakai dan tempat kosmetik.
  • Angka 2: HDPE (High Density Polyethylene) di mana memiliki kemampuan untuk mencegah reaksi kimia terhadap makanan atau minuman yang dikemasnya. Bisa ditemukan pada tas belajaan, kemasan deterjen, botol susu, dan botol jus.
  • Angka 3: PVC (Polyvinyl Chloride) mengandung senyawa DEHA yang dapat lumer pada suhu -15°C. Biasanya sering digunakan untuk pembuatan selang, kantong darah, pembungkus kabel, botol, serta plastik pembungkus.
  • Angka 4: LDPE (Low Density Polyethylene) yang biasa digunakan untuk pembuatan pembungkus makanan atau plastic food wrap dan botol lunak. Bahan ini aman untuk pengemasan makanan atau minuman karena sulit bereaksi dengan bahan kimia.
  • Angka 5: PP (Polypropylene) merupakan pilihan terbaik untuk dijadikan bahan penyimpanan makanan atau minuman dan botol minum untuk bayi.
  • Angka 6: PS (Polystyrene) yang biasa  digunakan sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, karton telur, dan lainnya. Selain butuh waktu yang lama untuk penguraian, bahan ini sangat berbahaya karena dapat mengganggu kesehatan seperti sistem hormonal, hormon estrogen, sistem saraf bahkan memicu terjadinya kanker dan kerusakan otak.
  • Angka 7: PC (Poly Carbonate) yang umum ditemukan pada botol minum bayi, galon air dan botol pendingin air.

2. Beralih Menggunakan Pembalut Kain

Keberadaan pembalut kain sebenarnya bukan hal baru, hal ini justru mengingatkan kita zaman dahulu di mana perempuan banyak menggunakan kain yang disebut tampon. Kain ini difungsikan sebagai pembalut.  Namun, memang dari sisi praktis pembalut kain tidak sesimpel pembalut sekali pakai. Apalagi jika musim hujan, proses menjemur jadi terhambat karena umumnya pembalut kain lebih lama untuk kering. Selain itu, faktor harga dan nyaman juga menjadi alasan utama. Satu buah pembalut kain bisa jadi seharga satu kotak pembalut sekali pakai.

Menggunakan pembalut kain berarti kita harus rajin mencucinya, dan bagi sebagian orang hal ini terkesan merepotkan. Padahal sejatinya banyak manfaat dari penggunaan pembalut kain:

  • Lebih hemat karena kita bisa mencuci dan menggunakannya berkali-kali.
  • Lebih menyehatkan daerah kewanitaan karena terbuat dari kain berbahan aman dan bebas dari bahan kimia.

3. Membawa Wadah Sendiri

Jika kita sering melihat anak-anak TK (Taman Kanak-Kanak) rutin membawa tumbler dan lunch box, sebenarnya hal itu salah satu langkah pembiasaan baik sejak dini. Selain lebih terjaga kesehatannya, penggunaan tumbler serta lunch box juga dapat meminimalisir sampah. Kita dapat menerapkan hal ini ketika membeli makanan atau minuman. Apalagi sekarang tersedia banyak model dan ukuran yang memudahkan untuk dibawa.

4. Kembali ke Alam

Langkah lain yang dapat kita tempuh untuk menjaga bumi adalah menggunakan produk alami sebagai kemasan seperti daun. Selain tidak mengandung zat berbahaya, penggunaan daun juga bisa menimbulkan aroma lebih sedap pada makanan.

Penutup

Tidak semua jalan pintas itu baik, begitu pula dalam hal penggunaan produk harian. Perlu bagi kita agar lebih aware dalam memilih produk berbahan ramah lingkungan turut membantu terhadap kelestarian alam. Kalau bukan kita sendiri yang memulai, siapa lagi?