Lompat ke konten
Beranda » Blog » Konsep Unik 212 Naisar Forest Garden

Konsep Unik 212 Naisar Forest Garden

Ketika Sampah Lamban Diangkut

Ada yang mengusik perhatian setiap melihat sampah bercecer di dalam bak. Padahal sudah diikat sedemikian rupa agar tidak menimbulkan bau dan tentunya memudahkan petugas pengangkut sampah ketika mengakutnya. Sayangnya, kejadian ini terus terjadi berulang kali, apalagi ketika didukung dengan jadwal pengangkutan sampah yang lumayan lama, seminggu sekali.

Bisa dibayangkan bagaimana sampah-sampah tersebut ikut merusak pemandangan rumah sekaligus menimbulkan penceramaran udara. Namun, masalah tersebut kini menemui titik terang setelah berkenalan dengan bank sampah unit Naisar Forest Garden yang beralamat di Jalan PLN nomer 203D, Kota Bandung.

Konsep Unik Naisar Forest Garden

Pasalnya, di bank sampah unit (BSU) ini masyarakat tidak hanya dikenalkan dengan edukasi pengolahan sampah tetapi juga terlibat secara aktif dalam kegiatan menabung sampah. Yang membuat BSU ini unik bukan hanya pemanfaatan pada lokasinya yang tidak begitu luas, tetapi juga konsep 212 yang mengingatkan kita pada tokoh film legendaris Wiro Sableng.

Dari informasi yang dijelaskan oleh Kak Susan selaku ketua bank sampah unit Naisar Forest Garden, BSU di sana menerapkan sistem menabung sampah 2 minggu 1 kali selama 2 jam. Jadi bagi masyarakat yang ingin menabung bisa datang ke lokasi yang hanya dibuka selama 2 jam. Dalam waktu tersebut, kegiatan menabung dan memilah sampah dilakukan sekaligus dan kabar baiknya langsung diangkut oleh tim BSU. Hal ini tentu sangat bermanfaat karena lingkungan tetap bersih dan otomatis tidak terjadi penimbunan sampah yang bisa menyebabkan bau ataupun mengundang lalat.

Pada dasarnya, keberadaan bank sampah unit itu tidak bisa disamakan satu sama lain. Ini dikarenakan harus disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan masing-masing daerah. Apalagi di Naisar Forest Garden juga tidak begitu luas lahannya, tentu diperlukan gerak cepat agar sampah-sampah yang telah terkumpul langsung dikelola.

Nantinya, masyarakat yang datang menabung sampah akan mendapat buku sebagai bukti tabungan mereka yang bisa ditukar dengan sembako atau kebutuhan lainnya. Hal ini memberikan gambaran yang jelas bagi masyarakat bahwa sampah juga dapat memberikan nilai dan manfaat yang lebih besar ketika dikelola dengan tepat. Misalnya, sampah berupa galon bekas yang bisa dimanfaatkan kembali sebagai pot atau ruang semai benih, begitu juga sampah rumah tangga seperti makanan sisa dapat dijadikan kompos yang berguna untuk kesuburan tanah. Oleh sebab itu, memilah sampah sangat disarankan untuk lebih memudahkan proses menabung. Selain itu, untuk jenis sampah seperti kerdus atau galon plastik juga diharapkan dalam kondisi kering.

Lebih lanjut, menurut Kak Susan, keberadaan BSU justru kian memudahkan edukasi bagi masyarakat untuk berperan langsung dalam menjaga lingkungan sekaligus merasakan langsung manfaatnya.

Penutup

Pada dasarnya, sampah yang jumlahnya selalu meningkat justru memiliki nilai ketika dikelola dengan benar. Oleh sebab itu diperlukan kerja sama yang baik baik dari pengelola maupun masyarakat sekitar. Naisar Forest Garden sebagai salah satu bank sampah unit turut andil dalam kegiatan menabung sampah melalui konsep unik 212 yang mana sampah dikumpulkan 2 minggu 1 kali dalam 2 jam. Konsep ini tepat sekali diterapkan untuk wilayah yang memiliki lahan terbatas namun ingin memiliki bank sampah unit. Selain itu, durasi yang dimaksimalkan juga lebih menghemat waktu baik untuk pencatatan, penimbangan maupun edukasi sampah.

Dengan demikian, luas atau sempitnya lahan tidak menjadi alasan untuk terwujudnya bank sampah unit. Dan yang pasti, kepedulian serta kesadaran diri sendiri untuk menjaga lingkungan juga menjadi kunci utama keberhasilan.