Lompat ke konten
Beranda » Blog » Ketika Pernikahan menjadi Nightmare di Kalangan Gen Z

Ketika Pernikahan menjadi Nightmare di Kalangan Gen Z

Pertanyaan yang Mengusik

Ada yang mengusik pikiran Nanda setiap berkumpul dengan keluarga besarnya. Hal itu adalah pertanyaan seputar pernikahan. Bukan karena belum memiliki tambatan, melainkan ada ketakutan tersendiri bila membahas pernikahan. Dan ketakutan itu kian mengerucut ketika Nanda mendengar cerita teman-temannya yang sudah lebih dulu membina rumah tangga – tidak sedikit yang mengatakan bahwa kenyataan pernikahan mereka jauh dari impian selama ini.

Apa yang Nanda rasakan mungkin pernah hinggap pula dalam diri kita. Dan yang mengejutkan lagi, akhir-akhir ini justru semakin banyak kawula muda yang memilih normalisasi tinggal serumah daripada mengukuhkan diri dalam ikatan pernikahan yang sah.

Alasan yang Membayangi dalam Menjalani Hubungan

Fenomena ini tentu menjadi keprihatinan bagi kita. Sejatinya, pernikahan bukan hanya sekadar pergantian status, melainkan sebagai batas perlindungan terhadap pasangan yang menjalaninya. Bahkan agama dan hukum negara juga mengatur ketentuannya. Namun, apa yang ditakutkan oleh generasi muda khususnya Gen Z perihal pernikahan dilandasi oleh beberapa pertimbangan:

1. Kesiapan

Menikah bukan hanya menyatukan dua insan, tetapi juga menyatukan dua keluarga besar yang berbeda latar belakang. Oleh karena itu, ketika seseorang memutuskan untuk menikah, maka dia harus siap dengan keluarga barunya. Apalagi jika pasangan muda tersebut terpaksa tinggal di rumah orang tuanya. Tentu harus ada penyesuaian. Belum lagi jika berkaitan dengan masalah finansial, tentu kebutuhan setelah membina rumah tangga perlu diperhitungkan. Karena tidak sedikit orang tua yang juga berharap anaknya mampu mandiri secara finansial setelah menikah.

2. Komitmen Mengikat

Setelah menikah, tentu ruang gerak tidak sebebas seperti masih sendiri. Ada batasan-batasan yang harus dipenuhi untuk menjaga perasaan sesama pasangan. Apalagi jika pasangan muda tersebut sudah dikaruniai buah hati. Namun, hal inilah yang kadang menjadi bumerang. Banyak yang berdalih tertekan, tidak bebas bahkan merasa terbebani dengan status dan tugas barunya sebagai ayah atau ibu. Sehingga mereka memilih menghabiskan waktunya dengan cara masing-masing.

3. Faktor Nyaman

Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, tentu sudah melalui berbagai pertimbangan – termasuk rasa nyaman dan nyambung dalam berkomunikasi. Namun, lambat laun pemikiran tersebut berubah karena distraksi baik barupa kesibukan maupun faktor lain. Sehingga pasangan yang semula memutuskan akan menikah memilih menunda pernikahan atau bahkan tinggal serumah dengan alibi masih berlatih berumah tangga dan penjajakan.

Padahal beberapa faktor di atas justru mengundang sisi negatif. Baik bagi pihak laki-laki maupun perempuan, mereka sudah tentu terkena sanksi sosial, belum lagi dengan beban pelanggaran norma agama.

Padahal sejatinya ketika dua insan menjalin hubungan, tentu harapannya akan berlabuh ke jenjang yang lebih serius. Karena seiring bertambahnya usia, pemikiran pun seharusnya menjadi alarm bagi siapa saja yang menjalaninya – hingga yakin dan paham kapan waktunya untuk lanjut atau menyudahi hubungan.

Fondasi Utama dalam Menjalani Hubungan

Lalu bagaimana seharusnya kita melangkah? Berikut ini ada beberapa poin yang bisa kita pertimbangkan dalam menjalani sebuah hubungan :

1. Luruskan Niat

Saat menjalani sebuah hubungan dengan lawan jenis, pastikan terlebih dahulu apa niat kita dalam hati. Jika memang hanya ditujukan untuk berteman, maka bertemanlah secara wajar. Berbeda jika tujuannya untuk mencari pasangan hidup. Meski demikian, jalani hubungannya secara wajar dan tidak berlebihan, agar nantinya tidak menimbulkan hubungan yang toxic serta berimbas kekecewaan.

2. Tentukan Waktunya

Dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis, tentu bisa dibedakan perlakuan teman dan calon pasangan. Ketika sosok yang kita pilih sebagai calon pasangan tidak kunjung membicarakan tujuannya, maka sinyal alarm harus diaktifkan. Jangan sampai menjadi korban janji-janji manis sementara kita terus memupuk harapan untuk hidup bersama.

3. Amati Perkembangan

Jika pasangan mulai menunjukkan gelagat yang cenderung menekan atau memanfaatkan, maka sudah layak hubungan tersebut diakhiri. Karena pernikahan itu ibadah sepanjang hayat yang tentu harus dijalani dengan kekompakan kedua belah pihak. Hal ini penting agar nantinya kita tidak terjebak semakin dalam.

4. Pantaskan Diri

Sebagaimana tujuan mulia sebuah pernikahan adalah untuk beribadah, maka untuk menuju prosesnya haruslah diiringi dengan langkah baik. Memantaskan diri dengan berintrospeksi, banyak beribadah dan melakukan kebaikan-kebaikan agar dimudahkan pula prosesnya.

5. Parenting Pernikahan

Tidak ada salahnya bagi kita untuk mencari ilmu seputar dunia pernikahan sebelum menyelaminya. Dengan demikian kita bisa lebih bijak dalam menanggapi hal-hal yang ditakuti mengenai pernikahan.

Penutup

Pernikahan adalah momen istimewa dalam hidup seseorang. Oleh sebab itu perlu pengetahuan dan pemahaman yang mendalam agar kelak bukan bayang-bayang menakutkan yang menghampiri, melainkan harmonisasi untuk menjalaninya dengan penuh keikhlasan di bawah naungan cinta Nya bersama sosok yang sudah diyakini pilihan Nya.