Lompat ke konten
Beranda » Blog » Bahaya Flexing bagi Kesehatan Mental yang Kerap Diabaikan

Bahaya Flexing bagi Kesehatan Mental yang Kerap Diabaikan

Indscriptcreative.com – Rangkasbitung, 24 September 2026

Flexing dapat memiliki dampak yang signifikan bagi kesehatan mental. Terus-menerus membandingkan diri sendiri dengan orang lain, dan merasa tidak cukup baik dapat menyebabkan beberapa kondisi yang mengkhawatirkan. Flexing adalah istilah yang terpakai untuk menggambarkan tindakan memamerkan kekayaan, prestasi, atau kemampuan seseorang di media sosial. Banyak orang menganggap flexing sebagai cara untuk menunjukkan pencapaian mereka, dan menarik perhatian orang lain. Namun, flexing yang berlebihan dapat berdampak negatif pada kesehatan mental seseorang.

Bahaya Flexing yang Harus Diwaspadai

Beberapa bahaya dari flexing bagi kesehatan mental adalah sebagai berikut:

1. Membuat Kamu Merasa Tidak Cukup

Flexing bisa memicu perasaan tidak aman dan merasa kurang dari orang lain. Ketika melihat postingan orang yang terus-menerus memamerkan prestasi dan keberhasilan, kamu mungkin merasa tidak cukup baik dalam hal apa pun yang dilakukan. Ini dapat menyebabkan perasaan sedih, rendah diri, dan stres.

2. Memperparah Kecemasan Sosial

Flexing juga dapat memperburuk kecemasan sosial. Kita mungkin merasa tekanan untuk memposting tentang pencapaian atau memperlihatkan kekayaan agar mendapatkan perhatian dan persetujuan dari orang lain. Hal ini dapat menyebabkan rasa cemas yang berlebihan, dan bahkan mendorong untuk melakukan hal-hal tidak sehat seperti mengejar popularitas atau menghabiskan uang yang sebenarnya bukan milik sendiri.

3. Meningkatkan Risiko Depresi

Melakukan flexing secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko depresi. Perasaan tidak cukup dan kecemasan sosial akibat flexing dapat membuat kita merasa terisolasi dan kesepian. Selain itu, terlalu sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain juga dapat memicu perasaan yang tidak berharga dan merasa tidak berguna.

4. Menyebabkan Tidak Bahagia

Flexing dapat membuat kita merasa bahagia sejenak, tetapi pada akhirnya hal itu menyebabkan tidak bahagia. Dan membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan merasa tidak cukup baik dapat memperburuk suasana hati sehingga membuat kita merasa tidak puas dengan hidup yang dimiliki.

5. Mengganggu Produktivitas dan Kosentrasi

Flexing dapat mengganggu produktivitas dan konsentrasi, Sering memeriksa media sosial untuk melihat postingan orang lain dapat menghabiskan waktu dan mengganggu fokus kita. Hal tersebut bisa menyebabkan keterlambatan dalam menyelesaikan tugas, dan bisa mengganggu kinerja di tempat kerja atau sekolah.

Cara Mengatasi Perilaku Flexing di Media Sosial

Berikut adalah beberapa cara untuk mengatasi perilaku flexing di media sosial;

1. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Sering kali seseorang suka pamer dan flexing di media sosial karena mereka ingin terlihat baik daripada orang lain. Oleh karena itu, penting untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan fokus pada diri sendiri.

2. Fokus pada Prestasi Sesuai dengan Kemampuan yang Dimiliki

Alihkan konsentrasi dan prestasi yang dilihat orang lain dan fokus pada prestasi sesuai dengan kemampuan individu. Fokus kepada hal yang benar-benar penting bagi kita, bukan hanya mencari pujian dan validasi dari orang lain.

3. Membatasi Penggunaan Media Sosial

Perilaku flexing di media sosial dapat terjadi karena penggunaan media sosial yang berlebihan, batasi waktu untuk menggunakan media sosial dan fokus pada kegiatan yang lebih produktif dan positif.

4. Batasi Informasi Pribadi yang Dibagikan

Pengguna media sosial harus berhati-hati saat memberikan informasi pribadi mereka di media sosial, seperti alamat rumah atau nomor telepon harus dihindari. Batasi juga jumlah foto yang terlalu memamerkan kekayaan.

5. Fokus pada Hal Positif

Daripada memamerkan kekayaan, pengguna media sosial sebaiknya membagikan hal-hal positif dan inspiratif. Seperti kesuksesan dalam karier, kegiatan beramal, atau prestasi akademik. Hal tersebut bisa membangkitkan semangat dan memberikan inspirasi bagi pengguna media sosial lainnya.

6. Hindari Pamer Kekayaan

Pengguna media sosial harus menghindari memamerkan kekayaan mereka secara terang-terangan di media sosial. Postingan yang terlalu memamerkan kekayaan bisa menjadi sasaran bagi penipu online atau pencuri identitias.

7. Berhati-hati dalam Berinteraksi dengan Orang Baru

Pengguna media sosial harus berhati-hati dalam berinteraksi dengan orang baru di media sosial, jangan memberikan informasi pribadi atau keuangan kepada orang yang tidak dikenal.

8. Memiliki Kecerdasan Finansial

Memahami bahwa kecerdasan finansial sangat dibutuhkan agar terhindar dari sikap suka pamer. Hal tersebut terkait dengan pengetahuan, perilaku dan kebiasaan dalam penggunaan harta agar lebih berkah dan tidak melanggar syariah.

Penutup:

Flexing atau tindakan memamerkan kekayaan dan pencapaian secara berlebihan di media sosial berdampak buruk bagi kesehatan mental pelaku maupun penontonnya. Hal ini dapat memicu rasa cemas, stres, dan kebiasaan membandingkan diri yang sering diabaikan oleh banyak orang. Apabila sikap flexing sudah menjadi kebiasaan, maka dapat menimbulkan bahaya terutama bagi kesehatan mental.