Mengasuh anak bukan sekadar mengajarkan mereka untuk bersikap baik, mematuhi aturan, atau mengikuti keinginan orang tua.
Lebih dari itu, pengasuhan juga menjadi proses bagi orang tua untuk belajar memahami diri sendiri, mengelola emosi, dan membangun hubungan yang sehat dengan anak.
Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit orang tua yang menjalani pengasuhan dengan penuh ketegangan.
Kekhawatiran terhadap masa depan anak, perilaku yang dianggap kurang baik, hingga keinginan agar anak tumbuh sesuai harapan dapat membuat orang tua berusaha mengendalikan banyak hal.
Padahal, salah satu langkah penting dalam membangun kepribadian anak adalah mengubah cara orang tua merespons perilaku mereka.
Lantas, bagaimana cara mengubah pola asuh terhadap anak agar proses pengasuhan menjadi lebih tenang dan mendukung perkembangan emosionalnya?

Memahami Pola Asuh yang Penuh Ketegangan
Dalam artikel yang diterbitkan oleh Psychology Today pada 6 Oktober 2026, psikolog Jenny Brown membahas pergeseran dari pengasuhan yang penuh ketegangan menuju pengasuhan yang lebih percaya diri melalui pendekatan yang dijelaskan dalam bukunya, The Parenting Paradox.
Menurut pendekatan tersebut, orang tua sering kali terlalu berfokus pada upaya mengubah anak.
Ketika anak dianggap sulit diatur, kurang disiplin, atau tidak memenuhi harapan, orang tua terdorong untuk segera memperbaiki perilakunya.
Keinginan tersebut sebenarnya dapat berawal dari kepedulian. Orang tua tentu ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik dan mampu menghadapi kehidupan.
Namun, jika kekhawatiran mengambil alih, pengasuhan bisa berubah menjadi serangkaian tuntutan.
Misalnya, orang tua terus mengingatkan anak agar tidak melakukan kesalahan, mengambil alih tanggung jawab yang sebenarnya sudah bisa dilakukan anak, atau merasa harus menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya.
Tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat mengurangi kesempatan anak untuk belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab.
Pesan yang muncul melalui perkataan maupun tindakan seolah-olah selalu sama, yaitu anak harus berubah agar sesuai dengan harapan orang tua.
Mengubah Fokus dari Anak ke Diri Sendiri
Salah satu cara mengubah pola asuh terhadap anak adalah mengalihkan sebagian perhatian dari perilaku anak menuju respons diri sendiri.
Perubahan ini bukan berarti orang tua harus mengabaikan kebutuhan anak atau membiarkannya melakukan apa saja.
Sebaliknya, orang tua diajak untuk lebih sadar terhadap cara mereka menghadapi berbagai situasi pengasuhan.
Ketika anak melakukan kesalahan, misalnya, orang tua bisa berhenti sejenak sebelum memberikan teguran.
Daripada langsung marah, cobalah memahami apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana respons yang lebih tepat.
Orang tua juga dapat bertanya kepada diri sendiri, apakah reaksi yang muncul benar-benar diperlukan atau justru dipengaruhi rasa takut dan kekhawatiran berlebihan.
Kesadaran seperti ini membantu orang tua memahami bahwa mereka tidak selalu bisa mengendalikan perilaku anak, tetapi tetap memiliki kendali atas perkataan, tindakan, dan keputusan mereka sendiri.
Dengan demikian, perubahan dimulai dari diri orang tua. Mereka belajar menjadi lebih tenang, konsisten, dan mampu memberikan arahan tanpa harus mengendalikan setiap aspek kehidupan anak.
Cara Mengubah Pola Asuh terhadap Anak
Mengubah pola asuh memang tidak selalu mudah. Kebiasaan yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun membutuhkan waktu untuk diperbaiki. Namun, beberapa langkah berikut dapat menjadi awal perubahan.
1. Mengenali Pemicu Emosi Saat Mengasuh Anak
Langkah pertama adalah mengenali situasi yang sering membuat orang tua kehilangan kesabaran.
Apakah ketika anak tidak menuruti perintah, melakukan kesalahan berulang, atau mendapatkan hasil yang tidak sesuai harapan?
Dengan mengenali pemicunya, orang tua dapat memahami pola reaksi yang selama ini muncul.
Ketika mulai merasa marah, ambillah jeda sejenak untuk menenangkan diri sebelum berbicara kepada anak.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang mau belajar mengelola emosi dan memperbaiki responsnya.
2. Memberikan Ruang bagi Anak untuk Belajar
Terkadang, orang tua terlalu cepat membantu karena tidak ingin anak mengalami kesulitan.
Padahal, kesempatan menghadapi tantangan merupakan bagian penting dari proses belajar.
Biarkan anak mencoba menyelesaikan tugas sesuai kemampuannya. Jika melakukan kesalahan, bantu mereka memahami akibat dan cara memperbaikinya.
Misalnya, ketika anak lupa menyiapkan perlengkapan sekolah, orang tua dapat mengajaknya membuat daftar barang yang perlu dibawa.
Cara ini lebih membantu anak belajar bertanggung jawab daripada selalu menyiapkan semuanya tanpa melibatkan mereka.
Memberikan ruang bukan berarti melepaskan tanggung jawab sebagai orang tua, melainkan mendampingi anak agar semakin mandiri.
3. Menggabungkan Kehangatan dengan Batasan yang Jelas
Pengasuhan yang baik membutuhkan keseimbangan antara kasih sayang dan ketegasan.
Anak perlu merasa diterima dan dicintai, tetapi mereka juga membutuhkan aturan yang membantu memahami tanggung jawab serta konsekuensi dari perilakunya.
Ketika anak melanggar kesepakatan, orang tua dapat menjelaskan batasan dengan tenang dan konsisten.
Hindari mempermalukan anak atau memberikan label negatif terhadap kepribadiannya.
Bedakan antara perilaku dan pribadi anak. Mengatakan bahwa tindakannya kurang tepat akan lebih membantu daripada menyebut dirinya sebagai anak nakal.
Dengan pendekatan ini, anak belajar bahwa kesalahan dapat diperbaiki tanpa harus merasa dirinya tidak berharga.
4. Menjadi Teladan dalam Mengelola Emosi
Anak belajar bukan hanya melalui nasihat, tetapi juga dengan mengamati perilaku orang tua setiap hari.
Ketika orang tua mampu mengakui kesalahan, meminta maaf, dan menyampaikan perasaan dengan baik, anak mendapatkan contoh nyata tentang cara menghadapi emosi.
Jika terlanjur membentak anak, orang tua dapat mengakui bahwa tindakannya kurang tepat. Setelah suasana tenang, ajak anak berbicara dan jelaskan bagaimana situasi tersebut seharusnya dihadapi.
Langkah sederhana ini menunjukkan bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan dan bertanggung jawab untuk memperbaikinya.
5. Membangun Kepercayaan Diri sebagai Orang Tua
Orang tua yang percaya diri tidak harus mengetahui semua jawaban atau selalu berhasil menghadapi setiap persoalan.
Kepercayaan diri tumbuh ketika orang tua mampu mengenali keterbatasan, memahami nilai-nilai yang dipegang, dan mengambil keputusan dengan lebih sadar.
Daripada terus membandingkan perkembangan anak dengan anak lain, fokuslah pada kebutuhan dan kemajuan anak sendiri.
Setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan proses perkembangan yang berbeda.
Tugas orang tua bukan membuat anak mengikuti perjalanan orang lain, melainkan mendampingi mereka mengembangkan potensi sesuai tahap perkembangannya.
Pengasuhan Dimulai dari Kesediaan untuk Berubah
Mengubah pola asuh terhadap anak bukan berarti orang tua harus berhenti memberikan arahan.
Justru, orang tua perlu belajar memimpin dengan lebih tenang, memberikan batasan yang jelas, dan membangun hubungan yang hangat.
Gagasan utama yang disampaikan Jenny Brown melalui The Parenting Paradox mengajak orang tua untuk tidak menjadikan anak sebagai satu-satunya fokus perubahan.
Orang tua juga perlu memperhatikan pola pikir, reaksi emosional, dan perilakunya sendiri.
Ketika orang tua tidak lagi berusaha mengendalikan setiap tindakan anak, tersedia lebih banyak ruang bagi anak untuk belajar mandiri, bertanggung jawab, dan mengembangkan kepercayaan diri.
Tentu, perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Ada kalanya orang tua kembali terpancing emosi atau melakukan kesalahan yang sama.
Hal terpenting adalah kesediaan untuk menyadari, memperbaiki, dan mencoba kembali.
Pada akhirnya, pengasuhan bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna atau membentuk anak sesuai keinginan.
Pengasuhan adalah proses bertumbuh bersama, ketika orang tua belajar menjadi lebih dewasa dan anak memperoleh ruang yang aman untuk berkembang.
Sebab, perubahan dalam keluarga tidak selalu dimulai ketika anak berubah. Terkadang, perubahan justru dimulai ketika orang tua bersedia mengubah cara mereka memahami, mendampingi, dan merespons anak.
Referensi:
Psychology today.com, From Tense to Confident Parenting, Brown Jenny, Ph.D, tanggal akses 9 Oktober 2026
