Lompat ke konten
Beranda » Blog » Harmonisasi Pasangan dengan Budaya Andap Asor

Harmonisasi Pasangan dengan Budaya Andap Asor

Beribu Cara Membahagiakan Pasangan

Banyak cara untuk membahagiakan pasangan, khususnya bagi suami-istri. Ada yang mengajak jalan-jalan, memberi sesuatu yang disukai, atau memberi kejutan. Pada dasarnya upaya tersebut dilakukan bukan sekadar untuk membahagiakan pasangan, tetapi juga sebagai cara untuk merawat dan menjaga pernikahan.

Hal ini perlu dilakukan mengingat pernikahan adalah salah satu ibadah terlama sepanjang masa. Dan untuk menjalaninya tidak hanya diperlukan ilmu parenting, tetapi juga pemahaman yang didapat melalui lika-liku kehidupan.

Andap Asor yang Memuat Kata Ajaib

Dari segala bentuk upaya membahagiakan pasangan ada hal penting dibanding pemberian yang berupa materiil, yaitu sikap andap asor. Dalam budaya Jawa, andap asor digambarkan seperti sikap rendah hati serta bijaksana. Dalam hal ini mengacu pada pihak suami selaku kepala rumah tangga, sikap ini sangat diperlukan agar dalam mengarungi bahtera rumah tangga tidak mengedepankan ego serta mode bossy – berperan sebagai bos.

Sebagai imam sekaligus kepala rumah tangga, suami yang membiasakan budaya andap asor tidak segan untuk mengucapkan kata ajaib seperti maaf, terima kasih, dan tolong. Penggunaan kata ajaib ini sejatinya juga sebagai bentuk penghargaan kepada istri yang secara psikologis akan berdampak positif padanya. Misalnya ketika suami selesai makan bersama lalu mengucapkan terima kasih telah memasak untuk mereka bersama. Perlakuan ini mampu menaikkan hormon endorfin yang menciptakan rasa bahagia bagi istri atas baktinya pada keluarga.

Selain sebagai wujud menghargai istri, pembiasaan kata ajaib ini juga membawa manfaat lain dalam rumah tangga:

1. Metode Pembelajaran Langsung

Ketika penggunaan kata ajaib (maaf, tolong, dan terima kasih) kita terapkan, otomatis hal ini akan menjadi role model bagi anak di rumah. Anak akan menilai bahwa hal itu baik dan bukan sekadar nasihat semata yang diajarkan oleh kedua orang tua.

2. Menumbuhkan Budaya Saling Asah-Asih-Asuh

Budaya menggunakan kata ajaib mengikis atasan-bawahan yang bisa saja berlaku di rumah. Sebagai contoh, Arin suka sekali menyuruh adiknya untuk menggantikan tugas pekerjaan rumah yang diberikan kedua orang tuanya. Selain gemar menyuruh, dia juga sering abai mengucapkan tolong dan terima kasih pada adiknya. Hal ini menandakan bahwa Arin berlaku sebagai atasan yang gemar menyuruh adiknya yang lebih muda.

Akan berbeda jika Arin membiasakan kata tolong dan terima kasih manakala meminta bantuan adiknya dan bukan hanya menyuruh.

3. Menciptakan Rumah Tangga yang Kondusif

Banyak hal baru yang justru baru kita dapat ketika berumah tangga, mengingat pernikahan adalah menyatukan dua insan yang berbeda latar belakang. Selain itu, biasanya pasangan justru akan mendapati kebiasaan yang baru ketahuan setelah hidup bersama. Oleh sebab itu, penggunaan kata ajaib ini juga berperan dalam mengontrol perilaku pasangan.

Dengan menggunakan kata ajaib sebagai bagian dari budaya andap asor, secara tidak langsung pasangan mulai memupuk kebiasaan baik untuk keberlangsungan bahteranya.

Sikap andap asor ini bukan berarti membuat penggunanya selalu mengalah, tetapi mampu menempatkan diri dan bersikap bijaksana terhadap pasangan. Secara psikologi, sikap ini juga mampu meredam ego masing-masing pasangan dan salah satu cara membahagiakan paling murah bahkan low budget.

Penutup

Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan yang berbeda, tetapi juga jalan untuk belajar saling memahami dan menerima pasangan secara ikhlas. Oleh karena durasinya yang tidak terbatas, perlu untuk dijaga dan dirawat agar manisnya sebuah pernikahan tidak hanya terjadi di awal, tetapi juga berlangsung sepanjang masa. Untuk itulah sikap andap asor yang memuat kata ajaib berperan mengawal harmonisasi sebuah pernikahan. Karena sejatinya menikah adalah langkah pembelajaran bagi kedua belah pihak yang juga berlaku sebagai role model anak-anak di rumah.