Aktivitas menulis seringkali digambarkan dengan begitu romantis — ditemani secangkir kopi hangat, duduk di pojokan, dan membiarkan isi kepala mengalir deras laksana air tsunami yang tiba-tiba datang.
Tapi…
Realitasnya tak seindah yang tergambar. Bagi seorang penulis, baik pemula maupun profesional — draf pertama seringkali menyimpan drama pertempuran psikologis yang sunyi.
Hambatan terbesar seorang penulis bukanlah datang dari faktor eksternal seperti laptop yang canggih atau ruangan kerja yang estetik. Namun, tantangan terbesar itu datang dari sisi internal si penulis.
Musuh sejati seorang penulis bergerak secara senyap, menggerogoti rasa percaya diri, membekukan kreativitas, dan secara perlahan membunuh karir kepenulisan mereka.
Artikel ini akan membahas lima silent killer (pembunuh senyap) penulis dan bagaimana cara mengatasinya. Yuk, baca sampai selesai!
1. Impostor Syndrome
Impostor syndrome (sindrom penipu) merupakan sebuah kondisi psikologis yang dialami penulis, dimana mereka merasa menjadi “seorang penulis gadungan“.
Mereka meragukan diri mereka atas pencapaian yang mereka raih karena merasa diri mereka tidak pantas untuk menulis. Mereka meragukan kemampuan menulis dan beranggapan bahwa mereka menulis dengan hasil yang bagus itu karena adanya “faktor x”, seperti karena adanya faktor keberuntungan, momen yang tepat, atau karena adanya bantuan dari orang lain.
Sindrom ini sangat berbahaya bagi seorang penulis karena bisa mematikan produktivitas menulis. Inilah kunci utama akar dari masalah yang dialami oleh penulis sebelum permasalahan lain (seperti perfeksionisme atau writer’s block) menyerangnya.
Kabar baiknya, sindrom ini bisa diobati dan bukan termasuk dari penyakit gangguan kesehatan mental. Impostor syndrome hanyalah permasalahan psikologis berupa kondisi reaksi situasional, seperti beradaptasi dengan lingkungan baru.
Bagaimana Impostor Syndrome Menyerang Penulis
Silent killer nomor wahid ini menyerang penulis dengan dialog internal yang destruktif. Bisikan-bisikan maut selama proses dialog internal ini bisa memicu gelombang besar yang meruntuhkan kepercayaan diri penulis, bahkan bisa membuatnya berhenti total untuk menulis.
Saat penulis mulai mengetik draft pertama kali, muncul suara sumbang di kepala:
“Siapa kamu begitu berani menulis tema ini?”
“Tulisanmu itu dangkal dan jelek, orang lain sudah membahasnya dengan jauh lebih baik.”
“Kalau buku ini terbit, semua orang akan tahu betapa bodohnya kamu.”
Akibatnya, penulis akan memilih untuk menghapus seluruh draf atau berhenti total menulis, hanya untuk menghindari “penyingkapan kedok” yang sebenarnya hanya ada di dalam imajinasi penulis saja.
Strategi Mengatasinya
Strategi penyelamatan dari impostor syndrome ini, yang bisa dilakukan oleh seorang penulis adalah sebagai berikut ini:
- Pisahkan fakta dan perasaan yang muncul. Suara sumbang yang mengatakan diri sebagai penulis yang buruk ini adalah perasaan saja.
- Lihat kembali rekam jejak tulisan yang telah ditulis secara rasional.
- Simpan tersendiri “file pujian” dari rekam jejak tulisan seperti testimoni positif dari para pembaca, nilai bagus dari editor, atau apresiasi positif dari para pembaca. Jika setiap saat sindrom penipu ini muncul “file pujian” ini bisa dibaca kembali.
- Sadari bahwa sebagai penulis itu terus belajar dan bertumbuh. Nikmati proses dan perjuangan dari perjalanan seorang penulis. Gagal itu biasa dan bangkit lagi itu luar biasa.
- Ubah mindset dan jangan terkekang ego dari ekspektasi yang berlebihan. Berdiskusi dengan mentor, teman sesama penulis, atau jika diperlukan bisa menghubungi bantuan profesional seperti psikolog jika dirasa impostor syndrome ini sudah sangat mengganggu.
2. Writer’s Block
Writer’s block (kebuntuan menulis) adalah kondisi non-medis yang dialami penulis akibat kehilangan inspirasi dan penurunan produktivitas menulis secara drastis.
Tanda-tanda penulis terjebak dalam fenomena writer’s block ini adalah munculnya pikiran yang kosong, hilangnya ide, dan sulit merangkai kalimat. Kecemasan melanda dan akhirnya terjadi kelelahan mental (burnout) yang datang menghampiri. Selain itu, sering menunda-nunda menulis dan terlalu perfeksionis juga bisa menyebabkan terjadinya writer’s block.
Cara Writer’s Block Menyerang Penulis
Writer’s block menyerang penulis melalui gangguan psikologis dan emosional yang melumpuhkan kreativitas menulis.
Otak terasa kosong, hanya tersisa ruangan gelap gulita. Ide, dialog, dan plot tak ada satupun yang muncul. Hanya layar berkedip-kedip dan memicu rasa frustrasi datang.
Penulis sering merasa:
“Setiap kata yang ditulisnya buruk.”
“Menghapus kalimat yang sama berulang kali.”
“Proses menulis terhenti di kalimat pertama.”
“Pikiran kosong bingung harus mulai dari kata apa.”
Cara Mengatasinya
Mengatasi writer’s block bisa dilakukan dengan hal berikut ini:
- Beri jeda waktu untuk istirahat. Alihkan pikiran sebentar misal dengan keluar rumah untuk menghirup udara segar.
- Gunakan metode “free writing“. Tulis saja dulu apa yang ada di kepala tanpa berpikir benar atau salah kata atau ejaan selama 10 menit dulu. Lakukan menulis sampai kebekuan motorik dan mental mencair secara perlahan. Yang penting mulai saja menulis dulu, edit belakangan.
- Lompati bagian yang sulit, pilih yang mudah ditulis sampai selesai baru menulis bagian yang sulit.
- Ganti suasana, misal kamu menulis di pojok kamar, ganti tempat ke dekat jendela yang udaranya mengalir bebas sehingga bisa menghirup oksigen dengan lancar sehingga menulis ikut menjadi lancar.
- Buat outline atau kerangka tulisan. Tujuannya agar tulisan tidak melebar kemana-mana.
- Pakai prinsip “dahulukan yang mudah dahulu” agar kebekuan hambatan bisa terpecahkan.
3. Perfeksionisme
Perfeksionisme adalah penetapan standar tinggi bagi diri penulis yang tidak realistis. Kecenderungannya diikuti kritis terhadap hasil karyanya sendiri.
Perfeksionisme dibungkus sebagai anggapan “totalitas menulis dengan standar yang tinggi” sehingga dia menjadi “penjara emas” bagi penulis. Akibatnya belum mulai menulis, pikiran sudah terpenjara, otak vakum, dan draft pertama gagal untuk ditulis.
Perfeksionisme acap kali berubah bentuk menjadi kelumpuhan analisis (analysis paralysis) yang mematikan dalam dunia kreatif. Padahal dalam dunia kreatif, menulis dituntut mampu berkreasi dan kreatif sehingga perfeksionisme menjadi musuh utama kreativitas karena menghendaki hasil sempurna pada draft pertama.
Cara Perfeksionisme Menyerang Penulis
Ketakutan adalah sumber munculnya perfeksionisme. Takut jelek, takut gagal, dan takut dihakimi inilah kondisi psikologis yang dialami penulis saat memulai menulis.
Yuk, pahami pola serangan perfeksionisme:
- Sindrom tulisan sempurna di draft pertama. Penulis memaksa mengedit saat proses membuat tulisan (creating) sedang berlangsung. Menulis kalimat pertama selesai kemudian dihapus karena dirasa kurang puitis atau kurang bagus. Proses ini berlanjut terus hingga tulisan pun tak diselesaikan.
- Munculnya ketakutan ekstrim. Takut kritik menyebabkan stres dan terjadilah kebuntuan menulis.
Tips Mengatasi Perfeksionisme
Kondisi yang sangat mengkhawatirkan ini perlu segera diatasi. Mulai dari menyadari sikap buruknya perfeksionisme ini dan mulai ambil langkah strategi berikut ini:
- Ubah pola pikir. Draft buruk lebih baik daripada berhenti menulis. Sadari ini agar ego lepas dan ekspektasi tidak berlebihan. Lebih baik memulai menulis daripada tidak sama sekali.
- Beri target realistis. Melakukan tujuan yang realistis lebih mendamaikan jiwa sehingga penulis tidak terjebak dalam kepalsuan ekspektasi.
- Apresiasi diri sendiri. Lembutkan jiwa, belas kasihani diri sendiri, hargai dan rayakan kemenangan kecil dari target realistis yang telah dicapai.
- Lepaskan validasi eksternal. Nilai seorang penulis tidak terletak pada pujian, algoritma, atau banyaknya like media sosial. Setiap individu itu berharga apa adanya tanpa tergantung dengan faktor eksternal.
4. Prokrastinasi
Prokrastinasi adalah tindakan menunda-nunda pekerjaan. Mereka beranggapan bahwa waktu masih panjang atau justru sebaliknya mereka menunda karena membutuhkan lebih banyak waktu untuk melakukan pekerjaan tersebut.
Penulis yang sering menunda-nunda menulis bukan berarti mereka itu malas. Mereka menunda bisa karena banyak faktor, misalnya saja:
- Terjebak pada tulisan awal yang harus sempurna.
- Ketakutan menghadapi banyak masalah, takut gagal menulis yang sempurna sehingga memilih menghindarinya.
- Terlalu banyak ide sehingga menyebabkan frustasi akhirnya menunda menulis.
Pola Serangan Prokrastinasi pada Penulis
Serangan prokrastinasi seperti melumpuhkan penulis sebelum bertanding. Penyamaran yang sempurna atas nama “aktivitas produktif” yang berhubungan dengan kepenulisan ini telah banyak mengecoh para penulis.
Lalu, bagaimana kita mengidentifikasi serangan prokrastinasi ini? Berikut pola serangan yang terjadi:
- Jebakan banyak melakukan riset. Terlalu banyak melakukan riset untuk menulis bisa menyebabkan overload ide. Ide menulis ini akhirnya hanya mengendap di otak atau catatan bank ide karena terlalu lelah riset dan nol eksekusi menulis.
- Menunggu mood yang baik untuk menulis. Menunggu mood bagus untuk datangnya inspirasi menulis akan menyebabkan jeda istirahat yang terlalu lama sehingga produktivitas menulis menjadi terhambat.
- Munculnya productive procrastination, seperti merapikan dan membersihkan tempat menulis saat waktu datangnya menulis tiba. Akibatnya jadwal menulis menjadi terganggu bahkan tidak jadi menulis. Productive procrastination adalah kebiasaan menunda tugas utama untuk mengerjakan tugas sekunder yang sebenarnya berguna juga (produktivitas semu).
Cara Melumpuhkan Serangan Prokrastinasi
Kebiasaan menunda menulis bisa diatasi dengan:
- Aturan lima menit. Menulislah selama lima menit tanpa berhenti. Sebenarnya kendala itu ada pada awal memulai menulis. Jika sudah sampai lima menit boleh berhenti atau lanjut menulis.
- Persempit proyek menulis. Jika penulis mendapatkan job menulis dengan jumlah besar maka persempitlah atau pecahlah menjadi bagian-bagian kecil untuk memudahkan selesainya menulis dan meringankan pekerjaan.
- Hindari distraksi. Fokuslah menulis dan matikan notifikasi gadget yang mengganggu.
- Buat skala prioritas. Berusaha disiplin untuk mengerjakan prioritas utama dahulu sebelum kegiatan sekunder, walaupun sama-sama berguna.
5. Burnout
Burnout adalah kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang akut akibat stres berkepanjangan dan tidak dikelola dengan baik. Biasanya ini terjadi akibat tekanan pekerjaan.
Burnout akan terjadi dengan tiga gejala utama yaitu kelelahan, kehilangan motivasi, dan penurunan kinerja. Burnout menjadi salah satu pembunuh massal karir penulis jangka panjang jika tidak segera ditangani.
Serangan Burnout bagi Penulis
Serangan burnout ini tidak terjadi secara tiba-tiba tapi berangsur-angsur setiap hari dari kebiasaan seorang penulis. Penulis mulai kehilangan rasa ingin menulis dan menulis itu “hanya sebagai beban” bukan hal yang menyenangkan.
Ketahui serangan burnout yuk:
- Terserangnya kreativitas menulis. Kehabisan ide, pikiran tumpul,kehilangan plot, kata-kata menjadi hambar dan minat menulis hilang sama sekali.
- Terserangnya mental dan emosional penulis. Krisis kepercayaan diri terjadi, tulisan sendiri dinilai buruk, dan dorongan menulis lenyap.
- Terserangnya fisik, seperti penurunan imun tubuh, sakit kepala, dan munculnya insomnia.
Cara Efektif Menaklukkan Burnout
Lelah mental, emosional, dan fisik menunjukkan pikiran butuh jeda. Ikuti petunjuk ini untuk mengatasinya:
- Buat hati senang. Jeda menulis pilih aktivitas yang menyenangkan plus menenangkan seperti makan makanan atau minuman yang disukai, tidur, atau jalan-jalan.
- Ubah suasana menulis. Jika selama ini suka menulis di dalam rumah maka bisa memilih keluar rumah misalnya ke kafe atau tempat yang disukai.
- Lakukan digital detox. Matikan hp dan laptop agar pikiran menjadi tenang.
- Tetapkan batasan kerja. Beri batasan waktu untuk menulis misalnya lima jam produktif dalam sehari. Tubuh dan pikiran seimbang maka pikiran akan tetap fresh.
- Lakukan menulis free writing. Tulis apa saja yang ada di kepala tanpa perlu memikirkan ejaan, tata bahasa, logika, struktur, dan target menulis yang harus dicapai.
Kesimpulan
Proses menulis adalah sesuatu yang perlu dinikmati bukan dijadikan beban. Menjadi penulissilent killer penulis produktif bukan sekedar seberapa jago membuat sebuah tulisan yang bagus tapi bagaimana bisa mengelola emosi, fisik dan mental agar terhindar dari lima silent killer penulis.
Jangan menunggu sempurna tapi segera memulai menulis. Menulis adalah sebuah proses untuk berani menghadapi ketakutan dan musuh-musuh senyap yang berkeliaran.
Selamat menulis!
