Lompat ke konten
Beranda » Blog » Indonesia yang Diam-Diam Terus Melangkah

Indonesia yang Diam-Diam Terus Melangkah

“Kemajuan tidak selalu datang dengan suara yang keras. Sering kali ia hadir dalam kemudahan-kemudahan kecil yang kita nikmati setiap hari, hingga kita lupa bahwa itu adalah sebuah anugerah.”

Bandung, 30 Juni 2026 – Beberapa hari yang lalu, saya berbincang dengan seorang sahabat yang baru kembali ke Indonesia setelah hampir lima belas tahun bekerja di luar negeri.

Sambil menikmati secangkir kopi, saya bertanya,

“Apa yang paling membuatmu kaget setelah pulang ke Indonesia?”

Saya menduga jawabannya tidak akan jauh dari kemacetan, banjir, atau harga kebutuhan yang semakin naik.

Namun ternyata saya keliru.

Ia tersenyum, lalu berkata pelan,

“Yang paling membuat saya terkejut justru bukan kekurangannya. Tetapi kemajuannya.”

Saya spontan bertanya,

“Masa sih?”

Ia mengangguk.

“Karena kalian tinggal di sini setiap hari, kalian tidak menyadari bahwa Indonesia berubah begitu cepat.”

Kalimat itu membuat saya terdiam.

Ia lalu bercerita.

Hari pertama tiba di Indonesia, ia membeli kopi di sebuah kedai kecil.

Begitu selesai, tanpa berpikir panjang ia mengeluarkan dompet.

Penjualnya justru tersenyum.

“QRIS saja, Pak.”

Ia tertawa kecil mengenang momen itu.

“Di beberapa negara tempat saya bekerja, warung kecil seperti itu belum tentu menerima pembayaran digital. Di Indonesia, hampir semua orang sudah terbiasa.”

Saya ikut tersenyum.

Benar juga.

Kini kita begitu mudah bertransaksi.

Membayar parkir…

Membeli gorengan…

Belanja di pasar…

Hingga membayar tagihan.

Semuanya cukup melalui telepon genggam.

Perbincangan kami berlanjut.

Ia juga kagum melihat semakin banyak jalan tol yang menghubungkan berbagai daerah, bandara yang semakin modern, transportasi umum yang terus berkembang, serta layanan pemerintah yang semakin terdigitalisasi.

“Belum sempurna,” katanya.

“Tetapi arahnya jelas. Indonesia sedang bergerak maju.”

Kemudian ia berkata lagi,

“Yang paling saya kagumi justru masyarakatnya.”

Saya penasaran.

“Kenapa?”

“Karena orang Indonesia sangat cepat beradaptasi dengan teknologi.”

Seorang ibu rumah tangga bisa berjualan dari rumah.

Seorang pensiunan tetap berkarya melalui media sosial.

Seorang anak muda membangun usaha hanya bermodal telepon genggam.

Bahkan banyak UMKM kini mampu menjangkau pelanggan hingga ke seluruh Indonesia.

Teknologi benar-benar membuka banyak pintu rezeki.

Saya mengangguk pelan.

Bukankah itu memang sedang kita saksikan?

Hanya saja…

Karena terlalu dekat…

Kita sering lupa mensyukurinya.

Sebelum kami berpisah, sahabat saya mengatakan satu kalimat yang masih terngiang hingga hari ini.

“Indonesia memang masih memiliki banyak pekerjaan rumah.”

“Pendidikan harus terus ditingkatkan.”

“Korupsi harus terus diberantas.”

“Pelayanan publik harus semakin baik.”

“Pemerataan pembangunan harus terus diupayakan.”

“Tetapi jangan sampai kritik membuat kita kehilangan rasa syukur atas kemajuan yang telah dicapai.”

Saya pulang sambil merenungkan ucapannya.

Bukankah Allah SWT telah mengingatkan,

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)

Rasa syukur bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan.

Justru rasa syukur membuat kita memiliki energi untuk terus memperbaiki keadaan.

Saya juga teringat sabda Rasulullah ﷺ,

“Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Maka menghargai hasil kerja para guru, tenaga kesehatan, petani, nelayan, aparat, peneliti, pelaku UMKM, para inovator, dan seluruh anak bangsa yang ikut membangun negeri ini juga merupakan bagian dari rasa syukur.

Hari itu saya belajar satu hal.

Menjadi warga negara yang baik bukan hanya berani mengkritik ketika ada yang salah.

Tetapi juga mampu mengapresiasi ketika ada yang benar.

Karena kritik akan membawa perbaikan.

Sedangkan rasa syukur akan menumbuhkan harapan.

Dan Indonesia…

Sedang melangkah.

Mungkin belum secepat yang kita impikan.

Namun jauh lebih maju dibanding yang sering kita sadari.

Mari tetap mencintai negeri ini dengan cara yang dewasa.

Tetap kritis ketika ada yang perlu dibenahi.

Tetap mendukung setiap langkah kemajuan.

Dan tetap bersyukur atas nikmat yang Allah titipkan kepada bangsa ini.

Semoga Indonesia terus menjadi negeri yang baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr—negeri yang baik, makmur, dan mendapat ampunan Allah SWT.

 

“Bangsa yang besar bukan hanya pandai menemukan kekurangan, tetapi juga bijak menghargai setiap kemajuan.”

 

#IndonesiaMaju
#BersyukurUntukNegeri
#CatatanArieWidowati
#TerusMenebarInspirasi