Peringatan Hari Lahir Pancasila sebagai Titik Balik
Tepat tanggal 1 Juni kemarin Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebagaimana kita tahu bahwa Pancasila sebagai landasan Ideologi bangsa yang artinya sebagai dasar dalam falsafah hidup. Keberadaannya pun sangat kental dalam menyatukan bangsa yang majemuk ini. Namun, akhir-akhir ini hakikat Pancasila justru kian luntur karena derasnya arus globalisasi. Satu per satu nilai luhur Pancasila yang mulia tergeser karena kurangnya menjiwai penerapan Pancasila. Oleh sebab itu kurikulum sekolah memasukkan unsur P5 sebagai langkah nyata untuk mengikat Pancasila agar tetap terjaga.
Peringatan Hari Lahir Pancasila tentu bukan sekedar perayaan, namun lebih dari sebuah renungan panjang seberapa besar nilai-nilai luhur Pancasila kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mirisnya, di tengah era globalisasi ini, tidak sedikit pejabat teras yang notabene wakil rakyat justru mulai mengaburkan nilai-nilai Pancasila. Hal ini tentu membuat masyarakat tidak nyaman dan ragu dengan sumbangsih mereka terhadap negara. Mengingat dalam prakteknya cukup banyak kasus yang terjadi hanya berkahir dalam bentuk hukuman tanpa penyelidikan lebih dahulu seperti yang menimpa mantan mentri pendidikan beserta konsultannya. Atau yang cukup menyita perhatian ketika salah seorang siswi mengajukan protes secara santun dalam lomba cerdas cermat baru-baru ini.
Hari Lahir Pancasila sejatinya dirayakan sebagai bentuk kontemplasi, renungan bagi kita semua untuk lebih mawas diri dan evaluasi. Bukan sekedar membuat perayaan dengan aneka simbolik berbau Pancasila. Layaknya sebuah harapan dalam perayaan tahunan, peringatan Hari Lahir Pancasila tentu lebih bermakna jika diisi dengan kegiatan yang mendukung esensinya.
Langkah Nyata dalam Memperingati Hari Lahir Pancasila
Ada banyak hal positif yang bisa kita lakukan untuk memperingati hari Lahir Pancasila;
1. Produktif Berkarya
Derasnya arus perkembangan teknologi tentu membawa sisi positif – kemudahan mengakses informasi, sumber informasi tanpa batas, serta temuan informasi baru atau terkini. Meski demikian, dengan mengacu pada nilai luhur Pancasila, perkembangan teknologi tentu dibarengi dengan Pancasila sebagai filter utamanya. Memanfaatkan tekonologi secara bijak dan bertanggung jawab dalam berkarya akan lebih berfaedah dadipada sekedar menikmati segala kemudahannya tanpa lebih dahulu menyeleksinya. Misalnya, jika kita membuat sebuah karya tulis, maka tulislah hal-hal baik yang menjunjung tinggi nilai luhur Pancasila, bukan mengagung-agungkan budaya lain.
2. Proaktif Promosi
Sudah sejak lama Indonesia dikenal sebagai bangsa yang selalu menjaga adat ketimuran. Namun dalam beberapa kejadian, sikap dan perilaku saat berkunjung ke bangsa lain justru berperilaku sebaliknya. Seperti yang pernah terjadi di Tokyo, di mana salah seorang warga Indonesia justru meneriakkan kata-kata yang kurang pantas. Hal ini tentu mencoreng citra bangsa kita. Sebagaimana pepatah berkata, jagalah adab di mana pun berada. Maka sudah menjadi tanggung jawab kita untuk menjaga perilaku di manapun jua. Bukankah sejak zaman Kerajaan Kalingga bangsa kita sudah terkenal keluhuran budi pekertinya? Di mana para warganya bahkan tidak berani menyentuh barang yang bukan miliknya sekalipun dekat di depan mata? Perilaku ini jugalah yang menarik perhatian saudagar dari tanah jiran untuk menjalin perdagangan dengan bangsa kita.
Sudah saatnya kita mempromosikan hal-hal baik bukan demi validasi atau egoisme semata seperti yang terjadi pada pemalsuan idnetitas dan riset dalam pertemuan ilmuwan dunia baru-baru ini.
3. Konsisten pada Jati Diri
Bangsa yang besar adalah bangsa yang lahir dari banyak keberagaman. Berkat Pancasila lah keberagaman tersebut tetap utuh bersatu padu. Boleh saja mengagumi budaya atau seluk beluk negara lain, namun jangan pernah lupakan jati diri bangsa sendiri. Selalu jadi kacang yang ingat pada kulitnya. Karena Pancasila lahir bukan hanya berisi rumusan sila-sila, melainkan sebuah pengejawantahan nilai-nilai luhur yang dimaksudkan untuk mengikat, menyatukan bangsa yang majemuk ini.
Penutup
Kita tidak bisa menolak setiap perkembangan sekalipun membawa dampak positif pun negatif. Namun dengan adanya Pancasila dalam jiwa, kita bisa mengontrol setiap perubahan tanpa perlu menggeser apalagi membuang jati diri kita.
