Purnabakti dari BRIN tidak serta-merta menghentikan langkah Dra. Arie Widowati, MT, untuk terus berkontribusi dan menebarkan ilmu. Dengan pengalaman 34 tahun sebagai ASN di bidang nuklir, dan 15 tahun terakhir didedikasikan sebagai Komunikator Nuklir, beliau kini merambah dunia baru sebagai trainer.
Keputusannya untuk mengikuti Training of Trainer (ToT) bersama Indscript Creative, di bawah bimbingan langsung Teh Indari, Ummi Aleeya, dan Leni Nurindah, menandai sebuah evolusi profesional yang ambisius. Ini adalah langkah strategis untuk tidak hanya mengasah kemampuan promosi, tetapi juga untuk menjembatani pemahaman publik tentang sains nuklir, isu kesehatan, serta ibadah yang baik, melalui kekuatan literasi dan storytelling.
Selama puluhan tahun berkecimpung di dunia nuklir, Ibu Arie Widowati, telah mengukir berbagai pencapaian. Beliau dikenal sebagai penulis buku “Bedah Manfaat Teknologi Nuklir”, serta berbagai artikel populer yang mengupas manfaat teknologi nuklir dengan bahasa yang mudah dicerna. Pengalamannya dalam mengelola dan mempublikasikan pertemuan ilmiah terkait teknologi nuklir juga memperkaya pemahamannya tentang bagaimana sains dapat dikomunikasikan secara efektif.
Namun, beliau menyadari tantangan dalam mempromosikan tulisannya agar semakin menarik dan buku-bukunya diminati. “Saya ingin lebih dalam lagi mengetahui Teknik-teknik promosi, sehingga tulisan-tulisan yang saya sampaikan menjadi makin menarik untuk dibaca dan buku-buku nya menarik untuk dibeli,” ungkapnya mengenai alasan utama mengikuti ToT. Di fase kehidupannya saat ini, usai purnabakti, beliau memiliki keinginan kuat agar terus dikenal sebagai komunikator handal di berbagai kegiatan dan bidang, khususnya pemanfaatan teknologi nuklir.
Kendala dalam promosi menjadi tantangan utama yang ingin diselesaikan melalui kelas ini. “Agar lebih menarik dan meyakinkan publik akan kemampuan saya,” ujarnya, menekankan urgensi peningkatan kapasitas sebagai trainer. Beliau merasa perlu meningkatkan kapasitasnya agar lebih meyakinkan publik, dan jika tidak mengikuti kelas ini, beliau khawatir akan melewatkan “teknik-teknik spesial untuk promosi” yang krusial untuk menyebarkan pemahaman positif.
Kontribusi beliau bagi masyarakat sangat jelas terarah. Target audiensnya meliputi siswa SMA, mahasiswa, komunitas, serta praktisi instansi pemerintah dan perusahaan, khususnya yang memanfaatkan teknologi nuklir. Isu negatif tentang nuklir yang kerap beredar di masyarakat menjadi fokus utamanya, disamping isu tentang hidup sehat dan beribadah dengan baik.
Melalui kelas atau pelatihan yang akan diciptakannya kelak, beliau ingin menghadirkan pemahaman yang lebih baik tentang nuklir, sehingga audiens dapat turut berpromosi tentang nilai-nilai positif teknologi nuklir, serta menguasai teknik penulisan reportase dengan metode storytelling.
Dalam 3-5 tahun ke depan, beliau bertekad meninggalkan warisan berupa berbagai buku panduan dan pengetahuan tentang berbagai manfaat nuklir, hidup sehat, serta tips-tips menulis yang baik dan benar.
Yang membedakan Dra. Arie Widowati, MT, dari trainer lain di bidang yang sama adalah pendekatannya yang “lebih luwes dalam penyampaian dan tidak sekadar teoritik”. Ia bercita-cita menjadi trainer yang kekinian dan disukai berbagai segmen audiens.
Goal spesifiknya mengikuti ToT ini bersifat personal (kepuasan berkontribusi untuk promosi dalam bidang apapun), profesional (dikenal sebagai Komunikator handal), dan finansial (diundang menjadi narasumber di berbagai platform). Beliau ingin membangun personal branding sebagai trainer di bidang literasi, khususnya masalah nuklir.
Setelah lulus dari TOT, beliau berencana menciptakan pelatihan menulis yang fokus pada mengubah publikasi ilmiah menjadi tulisan populer yang digemari publik dengan gaya storytelling yang menarik. Audiens yang siap dikelolanya adalah para peneliti dan teknisi muda di berbagai bidang keahlian.
Ketertarikannya pada program “Together Goes To School” dari Indscript Creative pun sangat kuat. Beliau memahami program literasi di sekolah ini bertujuan agar siswa terbiasa menyampaikan perasaan dan pemikiran mereka melalui tulisan. “Sangat urgent, karena generasi muda sekarang harus mampu menyampaikan pengetahuan, maupun keresahannya melalui tulisan agar diketahui oleh orang lain untuk dicarikan solusinya bersama,” jelasnya.
Beliau ingin menjadi bagian dari gerakan ini karena ingin generasi muda lebih maju dan kritis terhadap ilmu. Peluang kolaborasi antara profesinya sebagai komunikator nuklir dengan program ini dilihatnya sangat baik. Jika diberi kesempatan mengisi sesi di sekolah, materi yang akan dibawakannya adalah “Teknik menyampaikan pendapat melalui tulisan khususnya masalah-masalah ilmiah yang krusial.” Kesiapan konkretnya adalah mengikuti training dan berlatih.
Dengan komitmen yang cukup serius untuk menjadikan profesi trainer sebagai bagian dari karier jangka panjangnya, beliau siap mencurahkan waktu dan energinya untuk membuat tulisan dan menyampaikan apa yang ia tulis. Ia membayangkan versi terbaik dirinya dalam tiga tahun ke depan adalah menjadi trainer yang disukai oleh berbagai segmen audiens. “Menjadi trainer yang kekinian dan disukai berbagai segmen audiens,” adalah kalimat yang menggambarkan sosok trainer yang ingin ia kenal.

Ibu Arie Widowati, membuktikan bahwa usia dan status purnabakti bukanlah halangan untuk terus belajar, berkembang, dan berkontribusi. Dengan bekal pengalaman puluhan tahun dan semangat baru dari ToT, beliau siap menjadi jembatan pengetahuan, mengubah persepsi publik, dan menginspirasi banyak orang melalui literasi, storytelling, serta pemahaman yang lebih baik tentang sains nuklir dan isu-isu penting lainnya.
