Lompat ke konten
Beranda » Blog » Social Loafing, Rasa Malas Saat Bekerja dalam Kelompok

Social Loafing, Rasa Malas Saat Bekerja dalam Kelompok

Indscriptcreative.com – Rangkasbitung, 02 September 2026

Social loafing merupakan istilah untuk menggambarkan sikap keengganan berkontribusi saat bekerja dalam kelompok. Perilaku ini tidak hanya mengganggu produktivitas kelompok, tetapi juga dapat berdampak pada diri sendiri. Orang yang melakukan social loafing cenderung memberikan sedikit kontribusi ketika bekerja dalam kelompok, bila dibandingkan ketika ia bekerja sendiri. Karena orang tersebut menganggap ada orang lain di kelompoknya yang bisa memberikan kontribusi lebih atau akan menyelesaikan tugas.

Perbedaan Social Loafing dengan Kemalasan Biasa

Meskipun social loafing sering kali dikaitkan dengan kemalasan, penting untuk membedakan keduanya. Kemalasan adalah individu yang cenderung menghindari pekerjaan atau usaha, terlepas dari apakah mereka bekerja sendiri atau dalam kelompok. Sementara itu, social loafing adalah fenomena yang terjadi secara khusus ketika individu bekerja dalam kelompok dan mengurangi upaya mereka karena merasa malas kontribusi tidak terlalu penting. Dengan kata lain, seseorang yang malas mungkin akan menghindari pekerjaan dalam situasi apa pun. Sedangkan seseorang yang melakukan social loafing mungkin akan bekerja keras saat mereka bekerja sendirian, namun mengurangi upaya mereka ketika bekerja dalam kelompok.

Cara Mengatasi Social Loafing

Social loafing dapat mempengaruhi efisiensi dan kinerja kelompok. Oleh karena itu, sikap ini perlu diatasi agar tidak menghambat kelancaran kerja tim. Jika anggota tim Anda yang memiliki kecenderungan social loafing, berikut ini adalah beberapa cara untuk menghadapinya:

  • Membatasi jumlah anggota agar ukuran kelompok tidak terlalu besar, atau memecahkan kelompok besar menjadi beberapa kelompok kecil.
  • Memberikan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas untuk setiap anggota kelompok.
  • Menentukan aturan dan standar untuk kinerja kelompok yang jelas.
  • Melakukan evaluasi terhadap kinerja individu setiap anggota kelompok.
  • Memberi pengertian kepada pelaku social loafing untuk bisa berkontribusi yang sama seperti anggota kelompok lainnya.
  • Memberikan apresiasi kepada anggota kelompok yang sudah memberikan kontribusi dan memenuhi tanggung jawabnya.

Penyebab Social Loafing

Sikap malas ketika bekerja dalam kelompok bisa terjadi di mana saja, baik di rumah, di sekolah, maupun di kantor. Beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang memiliki kecenderungan social loafing antara lain:

1. Tidak Memiliki Motivasi

Motivasi adalah dorongan dalam diri untuk bertindak guna mencapai suatu tujuan, misalnya menyelesaikan tugas dengan baik. Orang yang tidak memiliki motivasi untuk mengerjakan tugas, dan menjalin komunikasi dengan anggota tim tentu tidak berminat memberikan kontribusi dalam kelompoknya.

2. Kurang Bertanggung Jawab

Seseorang akan merasa malas terlibat atau berkontribusi dalam kerja kelompok ketika ia kurang bertanggung jawab ketika mengerjakan tugas. Hal ini karena orang tersebut merasa tugasnya tidak akan memberikan pengaruh besar pada kelompoknya.

3. Anggota Kelompok Terlalu Banyak

Sejumlah studi menyatakan bahwa ketika berada di dalam kelompok, seseorang cenderung kurang berusaha melakukan tanggung jawabnya. Terutama, jika berada di dalam kelompok dengan jumlah anggota yang banyak, misalnya dua belas orang.

4. Ekspektasi Terhadap Anggota Kelompok

Saat masuk dalam kelompok yang malas, seseorang memiliki kecenderungan social loafing juga akan menjadi malas karena merasa terbebani jika harus mengerjakan semua tugas sendiri. Sebaliknya, ketika orang dengan social loafing masuk ke dalam kelompok yang ambisius, ia menjadi malas untuk berusaha dan berpartisipasi karena merasa ada anggota lain lebih kompeten. Akhirnya, ia akan membiarkan anggota yang lebih kompeten untuk melakukan semua pekerjaannya.

5. Cara Kerja yang Tidak Cocok dengan Timnya

Setiap orang memiliki cara kerja yang berbeda-beda. Namun, cara kerja tidak selaras dengan anggota tim lainnya dapat memicu terjadinya social loafing. Ketika seseorang merasa tidak terhubung atau tidak sejalan dengan ritme kerja tim, ia cenderung kurang berkontribusi secara maksimal.

Penutup:

Social loafing adalah fenomena psikologis ketika seseorang sengaja mengurangi usaha atau kontribusinya ketika bekerja dalam kelompok. Dibandingkan saat ia mengerjakannya sendirian, jika memiliki anggota social loafing Anda bisa melakukan beberapa cara di atas. Jika cara-cara tersebut tetap tidak berhasil untuk mengatasinya, Anda dapat berdiskusi dengan anggota tim performanya menurun terkait ada atau tidaknya masalah pribadi yang dihadapinya.