Indscriptcreative.com – Rangkasbitung, 30 Agustus 202
Pada era globalisasi saat ini yang penuh dengan berbagai tren, membuat masyarakat terkena perilaku impulsive buying. Perilaku ini berbeda dengan perilaku konsumtif, hal tersebut dikarenakan impulsive buying berarti perilaku konsumen dalam membeli sesuatu tanpa berpikir dua kali akibat terjebak tren tertentu. Perilaku ini juga sering diakibatkan oleh keinginan sesaat, dengan berkembangnya media sosial berbagai produk yang viral membuat sebagian besar masyarakat ingin membelinya. Misalnya seperti munculnya produk skincare, make-up, bahkan trend fashion seamless. Ketika produk tersebut muncul di media sosial, kita segera membelinya tanpa berpikir dua kali.
Ditambah lagi dengan perkembangan berbagai marketplace dan online shop yang sering memberikan diskon, semakin mudah tergiur dan membelinya tanpa berpikir panjang. Padahal, barang tersebut belum tentu dibutuhkan. Hal di atas merupakan impulsive buying yang sering terjadi pada masyarakat akhir-akhir ini. Bahkan, menurut riset saat dilakukan oleh Thetradedesk.com mengatakan bahwa hampir 42% populasi masyarakat Indonesia menjadi impulsive buying karena adanya diskon tersebut.
Definisi Impulsive Buying
Impulsive artinya suatu sikap ketika seseorang melakukan tindakan tanpa memikirkan dampak dari apa yang dilakukan. Sementara itu, impulsive buying adalah suatu perilaku atau kebiasaan membeli barang tanpa direncanakan dan cenderung lebih tidak dibutuhkan dan tidak memiliki manfaat tertentu. Contohnya, saat pergi ke pasar untuk membeli beras. Namun, kita justru memasukkan permen secara spontan ketika sedang membayar di kasir. Hal ini merupakan contoh pembelian impulsif, impulsive buying terjadi karena adanya pemikiran irasional dari konsumen. Hal tersebut dimanfaatkan oleh para pemasar untuk meningkatkan penjualan. Contohnya, menawarkan aksesoris tambahan untuk pembelian sebuah handphone, seperti adanya diskon paket smartwatch atau headset.
Faktor Pemicu Impulsive Buying
Emosi memegang peranan penting karena adanya impulsive buying. Hal tersebut yang paling mempengaruhi emosi pelanggan secara kuat yaitu adanya penawaran menarik atau diskon besar-besaran. Namun, terdapat beberapa faktor secara psikologis yang memicu terjadinya impulsive buying. Beberapa diantaranya:
1. Sensasi dalam Mendapatkan Penawaran Terbaik
Konsumen sering kali termotivasi untuk membeli karena merasa mendapatkan penawaran terbaik dan telah melakukan pengamatan tertentu. Ini bisa terjadi karena adanya promosi penjualan besar-besaran, pembeli ini yakin bahwa produk tersebut dapat bermanfaat jangka panjang sehingga ia memutuskan untuk membelinya. Tanpa berpikir dari segi nilai dan efektivitas biaya.
2. Stimulasi Fisik
Kondisi lingkungan seperti suasana toko, aktivitas produk, dan tata letak produk sangat mempengaruhi konsumen. Hal ini dapat menyebabkan impulsive buying terjadi dengan mudah, misalnya meletakkan produk diskon pada bagian depan toko, memasang banner diskon, menyambut konsumen dengan ramah, dan lain-lain.
3. Fear Of Missing Out
FOMO sering dirasakan oleh para konsumen yang sangat memperhatikan gengsi serta status sosial. Namun, sifat FOMO ini diakibatkan oleh perasaan akan rasa takut ketinggalan tren. Misalnya, membeli baju yang sedang viral meskipun tidak dibutuhkan.
4. Sifat Manusia yang Dinamis
Manusia sering kali merasakan mudah bosan akan suatu hal yang begitu-begitu saja. Dikarenakan manusia merupakan makhluk yang dinamis, sehingga suka mengalami perubahan. Sifat dinamis ini juga berlaku pada jasa atau produk tertentu, impulsive buying sering terjadi saat konsumen membeli barang baru meskipun barang yang lama masih bisa berfungsi dengan baik.
Penutup:
Impulsive buying adalah tindakan membeli barang secara spontan, tanpa rencana atau pertimbangan yang matang. Impulsive buying sering kali terjadi karena adanya dorongan emosional, dan keinginan sesaat yang tidak terencana. Sehingga bisa berakibat pada pengeluaran yang tidak perlu atau ketidakstabilan finansial, mengenali dan mengendalikan perilaku impulsif merupakan langkah penting menuju kesejahteraan finansial.
Menetapkan daftar belanja, mengimplementasikan aturan 24 jam, berhenti mengikuti akun media sosial yang memicu godaan, dan memprioritaskan keuangan yang jelas. Dengan menerapkan strategi-strategi ini kita dapat lebih bijak dalam mengelola keuangan, serta mencapai kestabilan finansial jangka panjang.