Saat ini, perjalanan saya menuju lokasi proyek Ammar Kaayu terasa begitu berarti.
Di dalam mobil, saya ditemani oleh tiga buku yang selalu setia, salah satunya adalah Pelabuhan Cinta: Catatan Rindu, Ibu, dan Pengabdian karya Nurul Jannah.
Membaca buku ini membuat waktu berlalu begitu cepat, bahkan saat sedang menunggu anak saya ujian pun rasanya tidak terasa berat sama sekali. Luar biasa!
Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan sebuah “pelabuhan” yang menampung berbagai perasaan. Isinya berupa kumpulan kisah yang terjalin indah, dimulai dari perjalanan penulis di IPB hingga bagaimana ia mensyukuri setiap nikmat yang ada. Setiap halaman terasa begitu dekat dengan hati, seolah-olah saya sendiri yang merasakannya.
Yang paling saya sukai dari buku ini adalah gaya penulisannya yang sangat mengalir dan lepas. Di setiap awal bab atau bagian, seringkali dibuka dengan kutipan (quote) maupun puisi yang sangat menyentuh.
Tulisan-tulisan ini terasa begitu hidup, penuh dengan perasaan rindu, kasih sayang, dan juga pengabdian yang tulus.
Dalam setiap kisahnya, penulis mampu menggambarkan perasaan dengan sangat detail.
Saya bisa merasakan bagaimana rasanya “mengharibin” atau merindukan seseorang, betapa berartinya kehadiran ibu, serta bagaimana kehidupan saat ini bisa menjadi pelajaran berharga.
Bahasanya sederhana namun mendalam, membuat setiap cerita terasa nyata dan mudah dipahami.
Bagi saya, buku ini sangat layak dibaca. Ia bisa menjadi teman yang baik, baik saat kita sedang sendiri maupun dalam perjalanan. Seperti yang saya rasakan sekarang, membaca dan menulis catatan kecil sambil beraktivitas menjadi momen yang sangat menyenangkan dan menenangkan.
Pelabuhan Cinta benar-benar menjadi tempat singgah yang indah untuk merenung, mencintai, dan bersyukur.
