Setiap 23 April, dunia merayakan World Book Day—sebuah pengingat bahwa peradaban dibangun dari huruf, kata, dan ilmu. Bagi umat Islam, semangat ini sesungguhnya telah diwahyukan 14 abad lalu lewat perintah pertama dari langit: _Iqra’_—Bacalah. QS. Al-‘Alaq ayat 1-5 bukan sekadar ayat pembuka kenabian, melainkan deklarasi semesta tentang pentingnya membaca, menulis, dan belajar dengan nama Tuhan.
A. Iqra’: Titik Nol Peradaban Islam
_“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”_ [QS. Al-‘Alaq: 1-5]
Lima ayat ini turun saat Rasulullah SAW berkhalwat di Gua Hira. Menariknya, perintah pertama bukan shalat, puasa, atau zakat, melainkan _Iqra’_. Allah memulai risalah-Nya dengan menyuruh membaca, lalu menegaskan bahwa Dia mengajar manusia _dengan pena_. Artinya, Islam sejak awal adalah agama literasi. Peradaban Islam pun melejit bukan karena pedang, tapi karena perpustakaan. Baghdad punya Baitul Hikmah, Cordoba punya 70 perpustakaan, dan para ulama menulis ribuan kitab di segala bidang—dari fikih hingga astronomi.
B. Krisis Literasi Hari Ini: Iqra’ yang Terlupakan?
Ironis, di era banjir informasi, UNESCO mencatat minat baca Indonesia masih rendah. Data Perpusnas 2025 menyebut rata-rata orang Indonesia hanya membaca 2-3 buku per tahun. Padahal gadget ada di genggaman, PDF tersebar gratis, tapi _Iqra’_ belum jadi budaya. Kita lebih sibuk _scrolling_ daripada _reading_. Lebih fasih komentar daripada menganalisis. World Book Day 2026 ini harus jadi tamparan: sudahkah kita menjalankan wahyu pertama?
Masalahnya bukan akses, tapi makna. Banyak yang membaca tanpa _bismi rabbik_—tanpa niat mencari kebenaran dan kebermanfaatan. Akibatnya, hoaks lebih cepat viral daripada jurnal ilmiah. Di sinilah peran guru, khususnya guru perempuan, menjadi krusial.
C. Guru Perempuan: Penjaga Api Iqra’ di Ruang Kelas
Jika Rasulullah diajari Jibril untuk _Iqra’_, maka anak-anak hari ini diajari oleh guru. Dan di Indonesia, 70% guru adalah perempuan. Mereka bukan hanya mengajar calistung, tapi menanamkan cinta pada buku sejak PAUD. Di pelosok, banyak guru perempuan yang jadi “perpustakaan berjalan”—membawa buku dengan motor, mendirikan pojok baca dari kardus bekas, mengajak murid menulis cerita tentang desanya.
Inilah _Iqra’_ yang hidup. Ketika Bu Guru menyuruh murid membaca 15 menit sebelum pelajaran, sejatinya ia sedang melanjutkan estafet Gua Hira. Ketika ia mengoreksi tulisan murid dengan pena merah, ia sedang mengamalkan _‘allama bil qalam_—Dia yang mengajar dengan pena.
D. Gerakan Satu Hari Satu Halaman
World Book Day tidak boleh berhenti di seremoni. Semangat _Iqra’_ harus membumi. Muncul satu ide: Gerakan Satu Hari Satu Halaman. Sederhana saja: kita baca satu halaman buku apapun, lalu ajak satu anak untuk melakukan hal yang sama. Bayangkan jika 64 juta pelajar Indonesia melakukan ini. Dalam setahun, 23 miliar halaman terbaca. Gelombang revolusi literasi akan tercipta.
Sebab bangsa yang besar bukan yang punya gedung tinggi, tapi yang warganya tak pernah berhenti membaca. Dan guru perempuan adalah garda terdepan penjaga api itu.
Mari rayakan World Book Day dengan kembali pada wahyu pertama: _Iqra’ bismi rabbik_. Bacalah, tulislah, ajarkanlah. Saat pena dan buku dirayakan hari ini, kita diajak kembali merenung: bahwa setiap lembar yang kita baca adalah ibadah, dan setiap ilmu yang kita tulis adalah jejak peradaban.
Sudah siap jadi bagian Gelombang Revolusi Literasi dunia?
_Selamat Hari Buku Sedunia. Terima kasih, Bu Guru, yang telah menjaga perintah Iqra’ tetap menyala._
