Lompat ke konten
Beranda » Blog » Menikmati Suasana Senja di Pantai Dampo Awang Rembang

Menikmati Suasana Senja di Pantai Dampo Awang Rembang

Indscriptcreative.com- Sidoarjo, 22 April 2026

Penginapan dekat Pantai berjarak 100m dari penginapan

Senja di Pantai Dampo awang  adalah tujuan utama. Saya dan suami berangkat dari penginapan di Jalan Diponegoro yaitu Hotel Kencana. Hotel yang berada di jalan yang cukup ramai dan termasuk kawasan jalan nasional. Banyak kendaraan besar yang melalui di depan hotel. Kami kebetulan tiba di hotel yang menunjukkan waktu sore hari pukul 15.00. Kami memesan kamar dan membersihkan badan kemudian menikmati sajian minuman teh hangat dan bubur merah. Pihak staf hotel mengantarkan langsung ke kamar. Kota Rembang yang berada di daerah pantura (pantai utara) memiliki udara cukup panas karena berbatasan dengan pantai. Usai beristirahat sebentar langsung bersiap ke pantai tanpa membuang waktu lagi. Suami mempersiapkan peralatan memancing, untuk mencoba keberuntungan memancing di pantai dan mendapat ikan laut. Ia mendapat telepon dari kakaknya yang memberi inspirasi untuk memancing, keduanya memiliki hobi yang sama.

Pusat pemerintahan dan Wisata

Hotel Kencana
Hotel Kencana-Diponegoro
Waktu menunjukkan pukul 17.00 sebenarnya kami berkeinginan ke Taman Rekreasi Pantai Kartini. Namun, waktu kurang berpihak karena loket taman rekreasi sudah tutup pukul 17.00. Solusi melalui google menuju ke pantai melewati jalan setapak yaitu pemukiman penduduk. Hati cukup mendebarkan sewaktu menyeberang jalan, karena harus berjalan cepat menginggat jalannya cukup lebar dengan kendaraan truk yang banyak dijalan. Namun, kami beruntung area penyeberangan lampu merah berada di depan hotel Kencana. Area jalan Diponegoro merupakan salah satu pusat pemerintahan karena terdapat Kantor DPRD Rembang bersebelahan dengan Kantor Bupati Rembang. Tak jauh dari lokasi yaitu jalan Gatot Subroto terdapat musium RA Kartini (pejuang pendidikan dan hak wanita Indonesia) yang dahulu merupakan rumah dinas Bupati Rembang yaitu Raden Adipati Joyodingrat.  

Suasana senja Pantai Dampo Awang

Kami langsung menyusuri jalan berbatu yang rapi menyerupai jalan setapak menjorok ke arah laut. Pengunjung banyak berasal dari warga sekitar dengan keluarga maupun dengan teman. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah banyak pemancing yang sedang duduk di bebatuan sabar menunggu. Angin bertiup cukup kencang sehingga rambut menjadi berantakan. Gelombang ombak di pantai cukup kencang, tak satupun saya melihat orang mendapatkan ikan. Menurut Jayadi, salah satu penjual cilok  yang berkeliling naik motor di lokasi, “Pemancing bisa memperoleh jenis ikan Kakap dan Kerapu di sini.”

Spot memancing

Duduk di atas bebatuan tepi pantai
Duduk di atas bebatuan tepi pantai
Saya duduk di bebatuan pinggir pantai, mengingat spot memancing harus menuruni bebatuan, rupanya memang posisi pantai yang datar dibendung oleh bebatuan yang ditumpuk karena proses pembangunan pelabuhan kapal nelayan. Menurut Jayadi warga setempat, “Taman rekreasi pantai Kartini sudah kotor, tak seperti dulu yang indah. Tersisa hanya jangkar kapal yang terdampar yang akhirnya dikenal sebagai Dampo Awang. Jika ingin berlibur ke pantai, merekomendaskan pantai Karang Jahe yang bersih dengan pasir putih layaknya pantai di Bali. Waktu sudah menunjukkan pukul 18:00 dan masjid mengkumandangkan dengan kencang. Suami tak mendapat satupun ikan, malah mata kailnya saling mengait milik orang lain. Tampak dari kejauhan banyak kapal nelayan yang berlabuh di dermaga. Lokasi dermaga cukup dekat dengan spot memancing hanya jalan masuknya berbeda. Suasana senja hari tampak indah, awan putih menutupi matahari yang tenggelam. Kami bergegas untuk mengemasi karena lokasi mulai gelap, tanpa ada penerangan di sepanjang jalan. Perjalanan selanjutnya mencari menu makan malam yang sesuai rekomendasi suami.    

Napak Tilas Leluhur

Ia kerap makan kesini saat mudik, yaitu perkampungan dengan nama jalan Bandilangu. Nama depot favorit adalah “Andri” menjual aneka menu makanan Chinese food, sayangnya ternyata kondisi tutup. Kami  menyusuri jalanan setapak yang sempit, suami mengajak untuk mencari rumah kelahiran mertua. Kondisi jalan yang remang-remang menjumpai sebuah keluarga yang menaiki mobil dan berhenti tepat depan gang. Kami jalan beriringin karena mobil mereka tidak bisa masuk ke gang.

Menelusuri pusat oleh-oleh Khas Rembang

Keluarga ini menghentikan langkah pada sebuah rumah dan memilih-milih makanan ringan. Rasa penasaran menyergap saya untuk kesana,  rumah dengan tulisan “pusat oleh- oleh Rembang” Om Thay. Saya memutuskan untuk turut mampir kesana dan membeli oleh- oleh yang cukup terjangkau harganya Sirup Kawista- Rp38.000, Krupuk Gendar- Rp14.000 (mirip Krupuk Puli rasanya), Semprong Kopi- Rp21.000.  kami melanjutkan perjalanan dan menemukan rumah kelahiran mertua. Kini rumah sudah menjadi milik orang lain setelah orangtuanya meninggal.  Perut mulai terasa lapar setelah berjalan, kami menyusuri jalan dan kembali ke Hotel sambil mencari makan malam. Tampak dari seberang jalan kami melihat ada penjual lalapan ayam dan lele. Kami memutuskan membeli lalapan nasi-lele seharga Rp 12.000/ bungkus. Lokasi tepatnya di depan taman rekreasi Kartini. Sambal lalapannya rasa enak, saya meminta penjual mengoreng lele kondisi kering. Kami mengalami kelelahan dan meminta penjual membungkus menu makanan untuk pulang ke Hotel Kencana dengan menyeberang jalan raya. jalanan dengan sejarah panjang yang merupakan peninggalan zaman Kolonial (Daendels)