Lompat ke konten
Beranda » Blog » Kartini Penjaga Tradisi: Ibu-Ibu Laras Wangi Menghidupkan Gamelan

Kartini Penjaga Tradisi: Ibu-Ibu Laras Wangi Menghidupkan Gamelan

infoindscript.com – Bekasi, 21 April 2026

Bulan April selalu identik dengan sosok R.A. Kartini. Pahlawan Nasional yang dikenal melalui gagasan-gagasannya tentang kesetaraan perempuan ini tidak hanya memperjuangkan hak pendidikan, tetapi juga membuka ruang bagi perempuan untuk berperan aktif dalam kehidupan sosial dan budaya.

Semangat inilah yang diangkat dalam talk show bertema “Kartini Menjaga Tradisi” yang diselenggarakan oleh RRI Jakarta dalam program Apresiasi Budaya Jawa, berkolaborasi dengan SENAWANGI dan Kementerian Kebudayaan RI pada 16 April 2026. Acara ini menghadirkan dialog budaya sekaligus siaran langsung permainan gamelan oleh kelompok Karawitan Laras Wangi yang seluruh anggotanya terdiri dari perempuan.

Peran Perempuan Dalam Pelestarian Budaya

Tema tersebut terinspirasi dari pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya antara tahun 1879 hingga 1904. Dalam tulisannya, Kartini menentang ketidaksetaraan gender dalam masyarakat Jawa yang feodal, termasuk perkawinan paksa, poligami, serta keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan. Pemikiran tersebut kemudian menjadi fondasi penting bagi gerakan perempuan Indonesia hingga saat ini.

Kini, perempuan Indonesia tidak lagi hanya ditempatkan pada ruang domestik. Mereka hadir dalam berbagai bidang, termasuk dalam upaya pelestarian budaya. Perempuan sebagai ibu memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi penerus. Dari tangan para ibu, nilai-nilai tradisi dapat diwariskan dan dihidupkan kembali dalam kehidupan sehari-hari.

Talk Show RRI Pro4 Jakarta

Menjaga tradisi bukan hanya tanggung jawab laki-laki. Perempuan pun memiliki kapasitas yang sama dalam menghidupkan budaya. Upaya ini perlu dimulai dari akar rumput melalui kolaborasi antara komunitas budaya dan pemerintah. Seperti yang disampaikan oleh narasumber malam itu, Irini Dewi Wanti, S.S., M.SP., Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan RI:

“Kalau pemerintah ini hanya sebagai fasilitator. Yang bergerak sebenarnya adalah komunitas. Kehadiran pemerintah penting untuk mendukung sehingga bisa berjalan bersama-sama dalam melestarikan kebudayaan.”

Sinergi antara pemerintah dan masyarakat tersebut tercermin dalam kehadiran komunitas Karawitan Laras Wangi.

Mengenal Karawitan Laras Wangi

Karawitan Laras Wangi Diklat Seni SENAWANGI merupakan salah satu program pembinaan seni tradisi yang diselenggarakan oleh Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI). Berdiri pada Maret 2024, program ini bertujuan melestarikan dan mengembangkan seni karawitan Jawa di kalangan masyarakat umum.

Yang menarik, peserta Karawitan Laras Wangi mayoritas terdiri dari ibu-ibu yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang seni karawitan. Namun mereka memiliki semangat tinggi untuk belajar dan mencintai budaya Jawa. Melalui proses pembinaan yang sabar dan terstruktur dari Bp. Didik Setyawan, S.Sn., para peserta kini telah mampu memainkan gamelan dengan baik.

Pengrawit Saron

Mereka bahkan telah tampil di berbagai kesempatan, baik di ruang publik seperti Museum Wayang maupun dalam acara privat. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa perempuan juga dapat mengambil peran sebagai pengrawit, yang selama ini lebih banyak didominasi oleh laki-laki.

Dalam talk show tersebut, Sekretaris Umum SENAWANGI, Imira Dewi, SE., M.M., memperkenalkan Karawitan Laras Wangi sebagai contoh nyata peran perempuan dalam pelestarian tradisi. Kelompok ini tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga simbol perjuangan kesetaraan gender dalam seni budaya.

Karawitan Laras Wangi juga menjadi ruang belajar terbuka bagi masyarakat yang ingin mengenal seni karawitan dari dasar. Latihan rutin dilaksanakan setiap hari Rabu di Gedung Pewayangan Kautamaan – TMII, pukul 10.00–15.00 WIB, dengan peserta yang sebagian besar merupakan pemula. Suasana belajar yang santai dan penuh kebersamaan menjadikan kegiatan ini sebagai wadah bagi perempuan untuk ikut berperan dalam menjaga tradisi. Informasi kegiatan dapat diikuti melalui Instagram @karawitan.laras.wangi.

Kartini Dalam Nada-Nada Gamelan

Acara yang dipandu oleh Sambowo Agus Heriyanto, S.Sn., berlangsung mulai pukul 20.00 hingga 23.00 WIB dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube RRI Jakarta serta frekuensi 92,8 FM. Di sela-sela dialog, Karawitan Laras Wangi membawakan sebelas gendhing yang telah dipersiapkan dengan matang. Dari alunan gendhing lembut seperti Ketawang Subokastowo Rinenggo, Langgam Setyo Tuhu hingga yang rancak berdendang seperti Srepek Mentok-mentok dan Lagon Begadang, menghadirkan suasana hangat dan penuh makna bagi para pendengar.

Karawitan Laras Wangi

Seperti semerbak bunga musim semi di bulan  April, malam itu para anggota Karawitan Laras Wangi mengenakan kebaya bermotif bunga. Kehadiran mereka tidak hanya menebar keindahan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang perempuan yang kuat dan berdaya. Semangat Kartini terus tumbuh dan mekar dalam langkah perempuan masa kini.

Dengan keteduhan hati dan kelembutannya,  seorang perempuan dapat terus menjaga dan mewariskan tradisi. Dari ruang-ruang sederhana, para ibu ini memainkan gamelan, menghidupkan kembali nilai budaya, dan menanamkan identitas pada generasi mendatang. Di tangan perempuan-perempuan inilah budaya tetap hidup, berkembang, dan terus berbunga.

Inilah Kartini penjaga tradisi.