Kemarin, saya berdiri di antara keramaian The Great Asia Africa dan Floating Market Lembang.
Dua tempat yang bukan hanya indah, tapi juga hidup. Orang-orang datang, berjalan, tertawa, berfoto, dan menikmati momen.
MasyaAllah… rasanya bukan sekadar wisata, tapi sebuah panggung besar bernama “pengalaman”.
Dua destinasi ini berada dalam satu kepemilikan, yaitu Perry Tristianto—seorang mentor yang juga pernah banyak membuka cara pandang saya tentang bisnis.
Dan kemarin, bukan hanya berkunjung… saya justru dipertemukan langsung dengan orang-orang hebat di balik operasionalnya.
Di The Great Asia Africa, saya bertemu dengan Ibu Novi. Di Floating Market, saya bertemu dengan Ibu Melani.
Dua sosok yang menurut saya sangat “pas” berada di dunia wisata—ramah, hangat, dan tahu bagaimana menghadirkan pengalaman yang menyenangkan bagi pengunjung.
Di situ saya semakin paham bahwa tempat ini tidak hanya dibangun dengan konsep, tapi juga dengan hati dan pelayanan.
Saya lalu memperhatikan sesuatu dan senang sekali mengamati setiap sudut, hampir semua orang memegang handphone. Mereka berhenti bukan hanya untuk melihat, tapi untuk mengabadikan.
Setiap spot seperti “memanggil” untuk difoto. Dan di situlah saya sadar, tempat ini bukan hanya ramai… tapi dirancang untuk viral. Gen Z sangat menyukai ini.
Mereka datang bukan sekadar liburan. Mereka datang untuk menciptakan cerita. Untuk punya sesuatu yang bisa dibagikan. Untuk merasa “ada” di sebuah pengalaman.
Dan di tengah semua itu, saya teringat kalimat dari mentor saya, Bapak Perry Tristianto yang juga pemilik dua lokasi tersebut, “Orang itu datang bukan hanya untuk melihat tempat, tapi untuk merasakan pengalaman yang ingin mereka ceritakan kembali.”
Kalimat ini seperti menyatu di depan mata saya kemarin karena saya melihat sendiri, tempat-tempat seperti ini bukan hanya soal ramai atau tidak. Tapi tentang bagaimana sebuah brand bisa masuk ke ruang yang belum banyak diisi pesaing—ruang bernama pengalaman.
Di sinilah saya melihat peluang besar untuk CIOMY. CIOMY tidak harus berdesakan di rak-rak yang penuh kompetitor. Tidak harus berteriak di tengah bisingnya pasar. Tapi bisa hadir dengan cara yang berbeda—masuk ke dalam momen.
Bayangkan ini…
Seseorang berjalan di The Great Asia Africa.
Berhenti di spot Jepang. Foto. Tertawa. Lanjut ke India. Lalu ke Timur Tengah.
Atau di Floating Market, mereka duduk santai di pinggir danau, menikmati suasana, sambil memegang camilan.
Kalau di momen itu ada CIOMY. Maka CIOMY bukan lagi sekadar produk.
Ia menjadi bagian dari cerita.
Inilah yang membedakan CIOMY dari produk lain.
Bukan hanya soal rasa.
Bukan hanya soal harga.
Tapi soal kehadiran di momen yang tepat.
CIOMY adalah teman perjalanan.
Mood booster.
Camilan praktis.
Dan bagian dari pengalaman.
Dan ketika dikaitkan dengan konsep Travel Access, semuanya menjadi semakin jelas.
Tempat seperti The Great Asia Africa dan Floating Market bukan hanya titik distribusi. Tapi titik emosi. Tempat di mana orang sedang bahagia, santai, dan terbuka untuk menikmati sesuatu.
Jika CIOMY hadir di sini, lalu diperkuat dengan aktivasi yang tepat—spot foto, bundling experience, atau bahkan campaign digital—maka yang terjadi bukan hanya penjualan.
Tapi akselerasi.
Exposure meningkat.
Brand semakin dekat.
Dan CIOMY mulai “hidup” di benak konsumennya.
Saya semakin yakin…
Apa yang dulu disampaikan para mentor saya bukan sekadar teori. Tapi strategi yang sangat relevan hari ini.
Dan semoga, CIOMY bisa menjadi salah satu contoh nyata—bahwa ketika kita berani masuk ke ruang yang belum banyak pesaingnya, lalu hadir dengan cara yang tepat…
Maka bukan hanya produk yang tumbuh.
Tapi juga makna di baliknya.
