Saya tidak pernah menyangka, bahwa keputusan sederhana untuk menekuni dunia penulisan… justru menjadi pintu yang mempertemukan saya dengan begitu banyak orang, dari berbagai latar belakang, bahkan lintas industri.
Menulis, bagi sebagian orang, mungkin hanya tentang merangkai kata.
Tapi bagi saya, menulis adalah jalan untuk membuka dunia.
Dari dunia penulisan, saya masuk ke jaringan bisnis internasional. Bertemu dengan para profesional, pengusaha, dan tokoh-tokoh yang sebelumnya mungkin tidak akan pernah saya jangkau dan menariknya, relasi itu tidak berhenti di “kenal saja”. Ia berkembang menjadi kolaborasi.
Saya berkenalan dengan Pak Perry Tristianto sejak 2012 karena dunia kepenulisan dan kini saya mendapatkan jalan mulus masuk ke lokasi wisata milik beliau, mulai dari Great Asia Afrika, Floating Market, Tahu Susu Lembang, bahkan diminta di Warung Lodeh. Tentu untuk Ciomy!
Saya berkenalan dengan Ibu Fifie Rahardja… juga dari dunia penulisan. Saat itu saya menuliskan biografi keluarganya. Sejak bertemu dengan beliau kami berkolaborasi dalam berbagai kegiatan sosial dan kini saya didapuk menjadi Ketua YSBI milik beliau untuk menata dan menjalankan roadmap menuju 2036.
Dari proses menggali cerita, mendengar perjalanan hidup, hingga merangkainya menjadi sebuah karya—hubungan itu tumbuh menjadi lebih dari sekadar penulis dan klien.
Begitu juga ketika saya berkenalan dengan Ibu Liely dan Pak Chandra Tambayong. Pertemuan itu pun terjadi karena aktivitas menulis. Kini menulis, kami membicarakan project furniture hingga masuknya Ciomy ke titik hotel dan wisata beliau.
Dari satu proyek, terbuka ruang-ruang percakapan baru, yang kemudian melahirkan kepercayaan, dan pada akhirnya, kolaborasi.
Di situlah saya semakin yakin— menulis bukan hanya tentang menghasilkan buku. _Menulis adalah tentang membangun hubungan._
Ketika saya menulis buku biografi, saya tidak hanya mendapatkan cerita. Saya juga mendapatkan akses.
Ya, saya bisa masuk ke hotel-hotel, ke properti-properti milik klien, melihat langsung bagaimana mereka membangun bisnisnya.
Di situlah saya belajar—bahwa setiap tulisan yang saya buat, sebenarnya sedang membuka pintu berikutnya.
Termasuk ketika saya kembali aktif di Ciomy.
Saya tidak memulai dari nol karena jaringan sudah terbentuk. Saya hanya perlu membuka percakapan dan memperkenalkan kembali.
Dan masya Allah, saya menyadari satu hal penting— Ciomy bukan lagi produk yang harus dijelaskan dari awal. Sebagian besar orang sudah mengenalnya.
Seperti kemarin malam, ketika Ciomy hadir di tengah para pengusaha hotel dan resto dalam halal bihalal Himpunan Pengusaha Hotel dan Resto Indonesia Jawa Barat dari dua ratusan orang hadir, hanya sekitar lima persen yang belum mengenal Ciomy. Ketika ditanya, kenapa belum tahu? Ternyata mereka memang tidak terpapar kampanye viralnya di TikTok atau Instagram.
Pada akhirnya Ciomy begitu banyak mendapatkan peluang untuk memasuki titik-titik lokasi usaha seperti RM Sangu Liwet Bu Ika hingga akan dibukakan akses masuk ke beberapa negara bidikan kami.
Semakin saya semakin paham— bahwa viral itu penting, branding yang kuat, ditambah kemampuan aktivasi dan komunikasi untuk terus melakukan penguatan dan perluasan pasar.
Dan di titik ini, saya juga belajar tentang diri saya sendiri.
Saya bukan tipe orang yang bisa diam dalam satu kotak.
Saya tidak bisa hanya fokus pada satu peran saja.
Saya menulis.
Saya membangun bisnis.
Saya berjejaring.
Dan semua itu saling terhubung.
Alhamdulillah, hari ini INDSCRIPT dan AMMAR KAAYU sudah dijaga oleh manajemen yang luar biasa. Ada tim yang memastikan semuanya berjalan dengan baik sehingga saya bisa melakukan apa yang paling saya cintai—
membangun koneksi, membuka peluang, dan memperluas manfaat.
Pada akhirnya, dunia penulisan bukan hanya tentang buku. Ia adalah jembatan yang menghubungkan saya dengan banyak orang, membuka banyak pintu, dan membawa saya pada perjalanan yang bahkan dulu tidak pernah saya bayangkan.
